Lombokvibes.com, Mataram— Di tengah geliat modernisasi dan perubahan wajah kota, sekelompok seniman dari Lombok menghadirkan sebuah pengalaman teatrikal yang bukan hanya menyentuh, tetapi juga membangkitkan kembali narasi sejarah yang nyaris terlupa.
Pertunjukan bertajuk Hikayat Ampenan, yang akan digelar pada Jumat, 16 Mei 2025, menjadi upaya kolektif untuk menghidupkan kembali kejayaan Kota Tua Ampenan melalui seni pertunjukan lintas disiplin.
Disutradarai oleh Syamsul Fajri Nurawat atau Kang Jabo, seniman asal Mataram yang dikenal dengan kepeduliannya terhadap sejarah dan budaya lokal, Hikayat Ampenan bukan sekadar teater. Ini adalah perjalanan sejarah yang dikisahkan ulang lewat tubuh, suara, cahaya, dan ruang.

Dengan konsep site specific theater, pertunjukan ini mengajak penonton untuk bergerak dari satu lokasi ke lokasi lain, menikmati berbagai gaya pementasan yang dirangkai menjadi satu narasi besar tentang kejayaan pelabuhan Ampenan sebagai simpul perdagangan maritim di masa lampau.
Pertunjukan akan dimulai pukul 20.00 WITA dari Auditorium Samalas di Museum Provinsi NTB dengan format lecture performance, berlanjut ke Gedung Ekraf Taman Jangkar di Ampenan untuk penampilan sound art dan visual performance, dan berpuncak di Teater Arena Terbuka Taman Budaya NTB dengan eksplorasi teater ketubuhan eksperimental.
Seluruh perjalanan ini akan diiringi kendaraan khusus yang mengantar penonton dari satu titik ke titik lain, menciptakan sensasi teatrikal yang tidak hanya visual dan intelektual, tetapi juga emosional dan spasial.
Hikayat Ampenan melibatkan kolaborasi lintas komunitas dan negara. Beberapa nama yang terlibat antara lain Art of Distraction, Teater Rumah Kapuk, Karang Taruna Satu Sampan Ampenan, dan Classic Sound and Entertainment. Menariknya, proyek ini juga melibatkan seorang seniman asal Chili yang turut menyumbang perspektif global dalam konteks lokal.
Proyek ini sendiri didukung oleh Taman Budaya NTB, Museum Provinsi NTB, Dinas Pariwisata Kota Mataram, serta Dana Indonesiana dari Kementerian Kebudayaan RI dan LPDP.
Lebih dari sekadar pertunjukan, Hikayat Ampenan adalah panggilan untuk mengingat. Ia bicara tentang pentingnya merawat warisan sejarah maritim Indonesia Timur, tentang toleransi dan keberagaman etnis yang membentuk jati diri Lombok, serta tentang menjadikan Kota Tua Ampenan bukan hanya sebagai destinasi wisata, tetapi juga pusat pembelajaran sejarah dan budaya.
“Dalam dunia yang bergerak cepat, Hikayat Ampenan menjadi jeda yang menyadarkan: bahwa masa lalu tidak untuk ditinggalkan, tapi dihidupkan kembali sebagai panggung masa depan,” ujar Kang Jabo.








































