Malam penuh resonasi di Mataram: Ketika tubuh, tradisi dan budaya berkolaborasi dalam satu panggung

Property of Lombokvibes media.
Property of Lombokvibes media.

Lombokvibes.com, Mataram— Malam kedua Gebyar Seni Tradisi Lintas Etnis 2025 di Taman Budaya Nusa Tenggara Barat menjadi bukti bahwa seni bukan sekadar tontonan, melainkan ruang perjumpaan yang sarat makna. 

Di tengah sorot lampu dan denting instrumen, seniman dari berbagai latar belakang budaya dan disiplin seni bertemu dalam satu semangat: merayakan keberagaman melalui tubuh, suara, dan cerita.

Pembuka malam itu datang dari Sanggar Bale Ganjur “Cakra” yang menghentak panggung dengan musik pukul khas Bali. Gema instrumen mereka menjadi penanda bahwa malam itu bukan malam biasa, melainkan malam di mana tradisi dan inovasi saling menyapa.

Tensi pertunjukan kemudian bergeser saat penari kontemporer asal Bandung, Hany Sulistia Ningrum, memasuki panggung dari arah penonton. Dalam diam yang intens, gerakan tubuhnya menyampaikan kisah personal perjumpaan dengan Lombok. Tarian Hany bukan sekadar pertunjukan, tapi perjalanan spiritual yang membuka ruang dialog antara seniman dan penonton.

Dari daratan Sumbawa, Komunitas Samawa membawa serta seni tutur sakeco. Melalui syair dan irama rebana, mereka menghidupkan kisah cinta, kehidupan, dan persaudaraan. Sementara itu, nuansa Sunda hadir lewat lagu-lagu Doel Sumbang yang dibawakan oleh Komunitas Jawa Barat. Suasana akrab dan reflektif terbangun saat penonton menyadari adanya kedekatan rasa antara budaya Sasak dan Sunda.

Sebagai penutup, kisah klasik Cupak Gerantang dibawakan dengan gaya yang segar oleh Sanggar Wayang Sasak dari Sesela. Meski cerita berakar dari tradisi, pendekatan teatrikal yang komunikatif menjadikannya relevan dan menghibur untuk penonton lintas usia.

Tak hanya di panggung, resonansi pertemuan lintas budaya juga tercipta di balik layar. Agung Gunawan, koreografer asal Klaten, dan Hany Sulistia berbagi cerita tentang kolaborasi dan semangat belajar para peserta workshop dari berbagai disiplin seni. 

“Mereka tidak saling mengenal sebelumnya, tapi lewat seni, mereka bisa menyatu,” ujar Hany.

Kehadiran dua seniman asal Austria, Thelonious Hamel dan Jenny Szabo, turut memperkuat kesan internasional acara ini. 

Meski berasal dari belahan dunia yang berbeda, keduanya mengaku merasakan energi yang sama dalam atmosfer kolaboratif yang hangat. “Kita tidak harus memahami kata-kata satu sama lain untuk bisa saling terhubung,” kata Thelonious.

Di tengah keterbatasan ruang bagi seni kontemporer, Taman Budaya NTB tampil sebagai laboratorium kebudayaan yang memungkinkan eksperimen dan pertemuan lintas batas. Malam itu menunjukkan bahwa ketika tradisi dan inovasi bersanding dalam ruang saling percaya, seni dapat menjadi jembatan yang tak hanya menghubungkan masa lalu dan kini, tapi juga membuka masa depan yang inklusif.

Dari denyut rebana hingga gerak tubuh yang tak terucap, pentas lintas etnis ini menyampaikan satu pesan yang kuat: seni bisa menjadi rumah bersama, tempat di mana perbedaan bukanlah batas, melainkan sumber kekayaan yang layak dirayakan bersama.

< a title=" milad bima 2025" target="_blank">

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!