Lombokvibes.com, Mataram– Sebuah pertunjukan teater yang menyentuh dan sarat pesan moral berhasil menyita perhatian dalam ajang Pergelaran dan Evaluasi I Olah Seni Provinsi NTB 2025. Bertempat di Gedung Teater Tertutup Taman Budaya NTB pada Sabtu malam, 21 Juni 2025, lakon berjudul “Sandiwara Tikus” tampil memikat dengan membawa isu besar: korupsi.
Pertunjukan ini merupakan karya R. Eko Wahono, yang tidak hanya menulis naskah tapi juga menyutradarai pementasan. Diperankan oleh siswa-siswi Kelas Teater Olah Seni Taman Budaya NTB, lakon ini membagi peran menjadi dua kelompok utama: manusia dan tikus.
Dalam balutan satir yang menghibur, cerita ini membawa penonton pada perenungan mendalam tentang perilaku koruptif yang telah mengakar di berbagai lapisan masyarakat.
Cerita bermula dari upaya manusia untuk membasmi tikus-tikus yang dianggap mengganggu rumah mereka. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Para tikus memberikan pembelaan diri dalam bentuk pledoi yang menyindir keras keserakahan manusia. Salah satu dialog paling mencolok datang dari tokoh tikus yang diperankan oleh Bening dan Nina.
“Kami hanya menelan separuh kue puding, membuat ribut di plafon, tapi kalian manusia menelan pulau, mengeruk emas dan nikel, mencuri uang rakyat untuk kesenangan pribadi,” ucap mereka, membuat suasana gedung teater seketika hening.
Menurut sang sutradara, R. Eko Wahono, lakon ini adalah bentuk ikhtiar kecil dalam menanamkan literasi antikorupsi sejak usia dini. Ia menekankan bahwa teater merupakan media yang efektif dalam membangun kesadaran kolektif pada anak-anak.
“Lakon Sandiwara Tikus adalah ikhtiar kecil kami untuk menanamkan benih literasi antikorupsi sejak dini. Teater adalah media efektif membangun kesadaran kolektif sejak anak-anak, agar kelak mereka tumbuh sebagai generasi yang paham mana yang hak dan mana yang rakus,” ungkap Eko.
Pemilihan metafora tikus juga bukan tanpa alasan. Menurut Eko, dunia hewan lebih dekat dengan imajinasi anak-anak dan mampu menyampaikan pesan berat seperti korupsi dengan cara yang ringan namun membekas.
Pentas ini melibatkan sejumlah siswa dalam dua kelompok peran. Tokoh manusia dimainkan oleh Ali, Tasnim, Daffina, Devika, dan Perry. Sementara tokoh tikus diperankan oleh Bening, Nina, Arkand, Ghina, dan Nashkia. Penampilan mereka didukung oleh tim lighting, artistik, dan penata bunyi yang membuat pertunjukan semakin hidup.
Kepala UPT Taman Budaya NTB, L. Surya Mulawarman, menyebut kegiatan ini sebagai bagian penting dari proses evaluasi perkembangan peserta Olah Seni di Taman Budaya NTB.
“Pentas evaluasi ini untuk melihat sejauh mana perkembangan anak-anak peserta Olah Seni di Taman Budaya, baik dari kualitas, kuantitas, maupun kreativitasnya,” ujarnya.
Selain itu, apresiasi juga datang dari para orang tua. Dino, ayah dari Ali yang memerankan salah satu tokoh manusia, menyambut baik tema yang diangkat.
“Walau ceritanya menyinggung korupsi yang seharusnya menjadi konsumsi orang dewasa, namun anak-anak penting untuk diberikan edukasi bahwa perilaku korupsi itu tidak baik,” katanya seusai pertunjukan.
Dengan keberanian mengangkat tema krusial seperti korupsi melalui pendekatan yang kreatif dan ramah anak, “Sandiwara Tikus” menjadi bukti bahwa pendidikan seni di NTB mampu berperan sebagai alat pembentukan karakter dan kesadaran sosial sejak usia dini.






































