Ijo Kajuman dari Genggelang: Cokelat 37 tahun yang mendadak jadi primadona Nusantara

Property of Lombokvibes.com
Property of Lombokvibes.com

Lombokvibes.com, Lombok Utara — Siapa sangka, dari sebuah kebun campuran seluas tujuh hektare yang ditanami kelapa dan sejumlah tanaman tumpang sari lainnya, di Desa Genggelang, muncul satu pohon cokelat (kakao) yang telah berusia 37 tahun dan kini membuat para petani dari Bali, Sulawesi, hingga Sumatera heboh. 

Varietas itu dikenal dengan nama Ijo Kajuman, bibit lokal yang ukurannya tak wajar, produktivitasnya stabil, dan ketahanannya sulit ditandingi cokelat-cokelat modern.

Penemunya ialah Pak Jabat, bukan peneliti atau akademisi pertanian. Ia seorang petani sekaligus guru SMP yang memulai semua ini dari rasa penasaran sederhana. 

Belajar bertani di kebun orang tuanya, suatu hari dengan pengamatan sederhana, ia melihat biji-biji cokelat yang sedang dijemur, dan beberapa di antaranya tampak jauh lebih besar dari biji-biji lainnya.

“Awalnya cuma lihat beberapa biji beda sendiri,” ceritanya kepada Lombokvibes (14/11/2025).

“Pas bandingkan sama yang lain, ukuran dan beratnya jauh berbeda,” sambungnya.

Penasaran, ia menelusuri kebunnyac bukan kebun cokelat penuh, melainkan kebun campuran, untuk mencari sumbernya. 

Beragam cara ia coba, hingga akhirnya satu metode berhasil, membuka buah satu per satu saat panen. Dari situ, ditemukan satu pohon yang menghasilkan biji jumbo tersebut. Pohon itu ditanam dari bibit proyek Banpres era Soeharto pada Januari 1988.

“Setelah beberapa kali coba, ketemu satu pohon. Ya itu dia sekarang. Usianya 37 tahun, masih sehat dan produktif,” katanya.

Pada masa itu, bantuan bibit cokelat belum dianggap menjanjikan. Banyak petani menyimpan, sebagian menanam, sebagian membiarkannya. Tanpa media, tanpa pendampingan, semua berjalan naluriah saja.

Tak heran, variasi buahnya pun beragam: bulat, lonjong, kecil, besar, sulit menghitung berapa jenisnya. Namun, pohon asal Ijo Kajuman selalu mencolok. Dari situlah Pak Jabat mulai bereksperimen menyambung pucuk dan batang untuk memperbanyak varietas unggul.

“Semuanya berdasarkan kasat mata. Lihat daun besar, buah besar, lebat, baru kita jadikan indukan,” jelasnya.

Ketika ia mulai fokus pada durian, banyak tamu datang ke kebun untuk belajar. Dari situ, perhatian terhadap cokelatnya ikut meningkat. Karena lelah harus menjelaskan hal yang sama berulang kali, ia akhirnya bekerja sama mengajak ponakannya untuk mendokumentasikan kegiatan melalui YouTube dan Facebook.

Meski unggul, Ijo Kajuman punya kelemahan, rentan terhadap penyakit dan hama buah. Tapi menurut Pak Jabat, hal itu bukan masalah besar karena penanganannya mudah: cukup dioles atau disemprot sekali dengan pupuk.

“Saya tahu solusinya,” ceritanya sumringah.

Keunggulan paling mencolok adalah efisiensi. Hanya sekitar sepuluh buah dibutuhkan untuk menghasilkan satu kilogram biji kering. Varian jumbo justru lebih ekstrem, delapan hingga sembilan buah sudah cukup. Angka ini membuat banyak petani daerah lain seperti Bali, Sulawesi, Kalimatan, hingga Semarang penasaran, bahkan iri.

“Petani Sulawesi bilang cokelat mereka manja. Harus dipupuk terus, tapi umurnya tidak sepanjang cokelat kita,” ujarnya.

Kini, permintaan datang dari seluruh Pulau Lombok, Bali, bahkan luar negeri. Ada pihak Amerika, Malaysia, hingga Filipina yang mencoba menghubungi. Beberapa eksportir juga menanyakan kapasitas produksi.

“Saya jujur saja bilang, produksinya belum sebanyak kebutuhan mereka. Mungkin dua sampai tiga tahun lagi baru siap,” sebutnya.

Sebagai guru, ia tetap menikmati pekerjaannya. Namun ia mengakui bahwa bertani memberikan hasil lebih besar dan masa depan yang lebih menjanjikan. Baginya, bertani juga soal merawat bumi, bukan sekadar memanen.

“Banyak orang rakus mengejar tambang dan macam-macam. Mau sekaya apa pun tetap butuh makan minum lalu mati. Kalau saya, ingin mempertahankan bumi di mana pun berada, memelihara yang hidup,” pungkasnya.

< a title=" milad bima 2025" target="_blank">

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *