Lombokvibes.com, Lombok Utara – Di balik aroma harum roti yang menggoda dari dapur Reno Bakery, tersimpan kisah kerja keras dan kemitraan suami-istri yang luar biasa. Adalah pasangan Nora dan sang suami, sosok di balik suksesnya Reno Cafe dan Reno Bakery, dua usaha kuliner yang kini dikenal luas di Lombok Utara.
“Awalnya kami hanya jualan donat seribu, tepatnya setelah gempa tahun 2018,” kenang Nora, owner Reno Cafe dan Bakery kepada Lombokvibes.com, kemarin.
Dari produk sederhana itulah, perjalanan panjang bisnis mereka dimulai. Kini, Reno berkembang menjadi salah satu supplier roti terbesar untuk restoran dan hotel di kawasan utara Lombok, bahkan hingga ke tiga Gili.
Dengan konsep yang matang dan pembagian peran yang solid, pasangan ini mengelola bisnis dengan profesional.
“Saya bagian manajemen dan accounting, sementara suami saya fokus di produksi. Beliau ini chef bakery bersertifikat, chef CDP bakery,” jelas Nora. Kombinasi keahlian keduanya membuat Reno tumbuh pesat.

Reno Cafe sendiri menjadi tempat nongkrong populer di kawasan Tanjung. Kini lokasinya berada di samping lapangan Tanjung, area yang sebentar lagi akan menjadi Alun-Alun Lombok Utara. Sementara Reno Bakery tetap menjadi tulang punggung produksi, memasok roti segar setiap hari ke berbagai hotel dan restoran.
“Keunggulan kami itu roti selalu fresh. Tidak ada yang disimpan lebih dari satu malam. Roti yang dibuat malam, pagi sudah dikirim dan langsung habis,” ujar Nora. Reno bahkan memproduksi raginya sendiri untuk menjaga keaslian cita rasa.
Dengan kapasitas 2–3 ton tepung per bulan, Reno Bakery kini mampu memproduksi hingga 150 kilogram roti per hari. Harganya pun terjangkau, mulai dari Rp5.000 hingga Rp7.000 per buah untuk varian spesial seperti abon dan double impact.
Tim produksi Reno terdiri dari lima pegawai tetap dan delapan trainee, ditambah tim khusus di Gili Trawangan yang menangani stok harian. Di cafe, lima karyawan siap melayani pelanggan yang datang untuk menikmati sajian khas Reno. Semua menu diolah dengan standar SOP yang ketat agar cita rasa tetap konsisten di setiap lokasi.

Kehadiran Reno Cafe dan Bakery pun mendapat apresiasi dari Wakil Bupati Lombok Utara, Kusmalahadi Syamsuri, yang turut hadir menikmati produk mereka. “Rotinya enak, menyatu dengan alam. Semoga menjadi pilihan masyarakat, dan terus sukses,” ujarnya.
Kini, Reno bukan sekadar bisnis kuliner, tetapi simbol ketekunan dan semangat bangkit pascabencana. Dari sebuah donat seribu rupiah, Reno menjelma menjadi kebanggaan kuliner Lombok Utara, wangi rotinya seakan membawa kisah perjuangan yang tak pernah basi.


























