Lombokvibes.com, Lombok Tengah– Lombok Tengah menjadi laboratorium lapangan bagi mahasiswa Program Studi Kartografi dan Penginderaan Jauh (KPJ), Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM), dalam pelaksanaan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) III tahun 2026.
Melalui tema “Pemodelan Spasial Sistem Sosio-Ekologis untuk Analisis Dinamika Lanskap dan Pengelolaan Wilayah Berkelanjutan”, mahasiswa KPJ UGM mengembangkan 16 penelitian yang mengkaji berbagai potensi dan permasalahan wilayah di Kabupaten Lombok Tengah.
Ketua Umum KKL III KPJ UGM 2026, Adam Amirul Akbari, menjelaskan, penelitian -penelitian tersebut dilakukan untuk memahami hubungan antara aktivitas manusia, kondisi lingkungan, serta perubahan lanskap yang terjadi di berbagai kawasan Lombok Tengah.
Dikatakannya, Lombok Tengah dipilih karena memiliki karakteristik yang beragam, mulai dari kawasan pesisir, lahan pertanian, permukiman, perkotaan, hingga daerah dengan topografi yang kompleks.
Selain itu, pesatnya perkembangan sektor pariwisata dan pembangunan, khususnya di kawasan Mandalika dan sekitarnya, turut menjadi perhatian para peneliti mahasiswa.
“Dinamika antara pemanfaatan ruang, aktivitas manusia, dan keberlanjutan lingkungan menjadi fokus penting yang kami kaji melalui pendekatan geospasial,” jelas Adam, Kamis (13/8/2026).

Sebanyak 16 penelitian yang dilakukan mahasiswa KPJ UGM mencakup berbagai tema, di antaranya pesisir, perkotaan, pertanian, mangrove, kebencanaan, evaluasi lahan, air permukaan, vegetasi, hingga biodiversitas. Sebagian penelitian dilakukan di kawasan Mandalika, sementara lainnya tersebar di berbagai lokasi di Kabupaten Lombok Tengah sesuai karakteristik masing-masing kajian.
Untuk memperoleh hasil yang akurat, seluruh penelitian memanfaatkan teknologi kartografi, penginderaan jauh, dan Sistem Informasi Geografis (SIG). Data lapangan yang diperoleh melalui pengamatan dan pengukuran kemudian diintegrasikan dengan berbagai data geospasial guna mendukung analisis, validasi, serta pengujian akurasi produk pemetaan yang dihasilkan.
Lebih jauh, Adam menjelaskan, bahwa keberagaman tema penelitian memungkinkan mahasiswa melihat kondisi Lombok Tengah dari berbagai sudut pandang.
“Melalui 16 penelitian ini, kami mencoba melihat Lombok Tengah dari berbagai perspektif. Setiap penelitian memiliki fokus yang berbeda, tetapi hasilnya diharapkan dapat saling melengkapi untuk memberikan gambaran mengenai potensi, kondisi, dan dinamika wilayah,” bebernya lagi.
Menurut dia, rangkaian penelitian tersebut merupakan upaya memahami Lombok Tengah sebagai sebuah sistem sosio-ekologis, yakni wilayah yang terbentuk dari interaksi antara komponen lingkungan dan aktivitas manusia.
Saat ini, KKL III KPJ UGM telah memasuki tahap penyusunan laporan akhir. Mahasiswa tengah menyempurnakan hasil analisis, pemetaan, validasi, dan interpretasi data agar informasi geospasial yang dihasilkan dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.
Menariknya, hasil penelitian tidak hanya akan dituangkan dalam laporan akademik, tetapi juga dipublikasikan kepada masyarakat melalui media sosial. Ringkasan dari 16 penelitian tersebut akan diperkenalkan secara bertahap melalui akun Instagram @kpjugm2023.
“Kami ingin hasil KKL III tidak hanya menjadi laporan akademik. Melalui publikasi hasil output 16 penelitian di media sosial, masyarakat dapat melihat bagaimana data geospasial digunakan untuk memahami berbagai fenomena yang terjadi di Lombok Tengah,” sambungnya.

Ditekankannya, melalui penelitian ini, mahasiswa KPJ UGM ingin menunjukkan bahwa teknologi geospasial bukan sekadar alat untuk menghasilkan peta, tetapi juga sarana memahami perubahan wilayah, melihat keterkaitan antara manusia dan lingkungan, serta mendukung pengambilan keputusan berbasis data.
Dengan mengintegrasikan berbagai perspektif penelitian, hasil KKL III diharapkan dapat menjadi sumber informasi yang bermanfaat dalam mendukung pengelolaan wilayah Lombok Tengah yang lebih adaptif, berkelanjutan, dan berbasis data.




























