Sampah Tiga Gili tembus 30 ton sehari, KSM masih jadi andalan

Property of Lombokvibes.com
Property of Lombokvibes.com

Lombokvibes.com, LOMBOK UTARA – Timbulan sampah di kawasan wisata Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air, Kabupaten Lombok Utara (KLU), dapat mencapai sekitar 30 ton per hari saat kunjungan wisatawan ramai. Di tengah tingginya volume sampah tersebut, kelompok swadaya masyarakat (KSM) masih menjadi ujung tombak pengelolaan sampah di tiga pulau itu.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Lombok Utara, Husnul Ahadi, mengatakan pengelolaan sampah di Tiga Gili masih dilakukan melalui KSM yang telah memperoleh izin operasional dari pemerintah daerah. Pola tersebut telah berjalan sejak 2024.

Dari ketiga pulau tersebut, Gili Trawangan menjadi penyumbang sampah terbesar dengan volume sekitar 18 hingga 20 ton per hari ketika kunjungan wisatawan sangat ramai. Sementara itu, Gili Air menghasilkan sekitar tujuh ton dan Gili Meno hingga lima ton sampah setiap hari.

Besarnya timbulan sampah membuat pengelolaan di kawasan wisata unggulan Lombok Utara tersebut tidak cukup hanya mengandalkan pengangkutan ke daratan. 

“Pengolahan sampah di masing-masing pulau juga menjadi bagian penting untuk mengurangi volume sampah yang harus dibawa ke tempat pemrosesan akhir (TPA),” ujarnya kemarin.

Di Gili Air, sekitar 60 persen sampah disebut telah diolah melalui fasilitas tempat pengolahan sampah reduce, reuse, recycle (TPS 3R). Adapun 40 persen sisanya diangkut ke daratan.

Husnul menerangkan, upaya serupa dilakukan di Gili Meno dengan target pengolahan sampah di pulau mencapai sekitar 60 persen. Namun, keterbatasan sarana membuat pengangkutan sampah residu belum dapat dilakukan setiap hari.

Sementara itu, Gili Trawangan mengandalkan fasilitas tempat pengolahan sampah terpadu (TPST) untuk menangani sampah yang dihasilkan dari aktivitas masyarakat dan pariwisata.

Selain mempertahankan sistem pengelolaan berbasis KSM, Pemkab Lombok Utara juga menyiapkan dukungan infrastruktur berupa tiga unit insinerator. 

Husnul menyebut ketiga unit tersebut telah menjalani uji baku mutu, sedangkan proses perizinannya mendekati penyelesaian.

Meski demikian, pengoperasian insinerator tetap harus memenuhi seluruh persyaratan teknis dan administratif, termasuk ketentuan kelayakan operasional serta pemantauan dampak lingkungan.

“Dengan timbulan sampah yang mencapai puluhan ton sehari saat musim ramai, keberadaan fasilitas pengolahan perlu diimbangi dengan sistem pengangkutan yang memadai dan kapasitas pengelola yang mampu menjaga pelayanan secara konsisten,” jelasnya.

Pemilahan sampah dari sumbernya, pengurangan penggunaan barang sekali pakai, serta keterlibatan pelaku usaha pariwisata dan masyarakat juga menjadi bagian penting dalam menekan volume sampah di kawasan tersebut.

Tantangan pengelolaan sampah di Tiga Gili kini tidak hanya berkaitan dengan besarnya volume sampah, tetapi juga memastikan seluruh proses penanganan berjalan sesuai standar lingkungan. Kepastian operasional fasilitas, kecukupan sarana, dan keberlanjutan pelayanan KSM menjadi faktor penting untuk menjaga kebersihan kawasan wisata andalan Lombok Utara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!