Lombokvibes.com, Lombok Utara — Sebanyak 29 siswa dari dua sekolah dasar di Malaka, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara, dilarikan ke Puskesmas Nipah, Rabu (11/2/2026). Mereka diduga mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi makanan program MBG yang dibagikan di sekolah.
Total siswa yang dibawa ke fasilitas kesehatan itu terdiri dari 19 siswa SDN 2 Malaka dan 10 siswa SDN 4 Malaka.
Wili, guru sekaligus penanggung jawab MBG di SDN 2 Malaka, mengungkapkan makanan yang dibagikan hari ini terindikasi basi. Ia mengaku langsung bereaksi setelah mencium aroma tak sedap dari lauk ayam dan tumisan kentang yang dicampur wortel.
“Bau ayam mendekati busuk. Tapi ada sudah yang sedang makan, kita langsung stop, namun juga berefek. Hingga dibawa ke puskesmas,” ujar Wili kepada Lombokvibes saat ditemui di Puskesmas Nipah usai membawa muridnya.
Menurut Wili, siswa yang belum sempat memakan makanan tersebut beruntung karena tidak ikut terdampak. Namun, sebagian siswa sudah telanjur makan saat informasi dihentikan disampaikan.
“Jadi yang sedang nyuap makanan, itu yang sakit perut mual-mual. Meminta mereka ngaku juga agak sulit harus dipaksa. Setelah 2 mengaku, kita bawa ke puskesmas. Akhirnya yang lain mengaku,” kata Wili.
Keluhan yang dialami siswa disebut bervariasi, namun dominan berupa sakit perut dan mual.
Hal serupa juga terjadi di SDN 4 Malaka. Guru SDN 4 Malaka, Budiharjo, menyebut sebanyak 10 siswanya mengalami keluhan sakit perut setelah menyantap makanan program tersebut.
“Ya ini, tumben terjadi. Komplainan terkait selera, ada basi juga,” ujarnya.
Di sisi lain, Kepala SPPG KLU Pemenang Malaka, Muhammad Izudin Nasrullah, mengaku heran dengan insiden tersebut. Ia menyebut pihaknya telah menjalankan seluruh prosedur sesuai standar operasional yang berlaku.
“Kami sudah menjalankan standar operasional sesuai dengan SOP,” kata Izudin.
Ia menjelaskan, setiap menu yang akan dibagikan wajib dikonsumsi terlebih dahulu di dapur sebagai bagian dari prosedur kontrol kualitas.
“Menu yang dibagikan sebelumnya wajib dikonsumsi di dapur. Untuk menu hari ini juga,” ujarnya.
Izudin menegaskan, bahan baku yang diterima dalam proses produksi tidak menggunakan sistem stok. Menurutnya, seluruh bahan baku disebut selalu dalam kondisi segar.
“Dari penerimaan bahan baku, itu semua sudah fresh. Tidak ada istilah stok,” katanya.
Ia juga memaparkan jadwal produksi makanan yang dilakukan dalam dua kloter. Proses memasak dimulai sejak malam hingga dini hari, sebelum akhirnya makanan dipacking dan didistribusikan serentak.
“Kemudian, dari jam mulai masak, 12.30 untuk kloter pertama, dan jam 3 pagi untuk kloter kedua. Tapi kemudian kami antar serentak. Dimulai dari yang lokasi jauh dulu,” ujar Izudin.
“Kami mulai packing jam 4 pagi,” sambungnya.
Meski mengaku sudah mengikuti juknis, pihak SPPG menyatakan akan melakukan evaluasi menyeluruh untuk mencari sumber persoalan, termasuk menyesuaikan batas waktu produksi sesuai ketentuan Badan Gizi Nasional (BGN).
“Ya mulai dari prosesnya, jam mulainya, seperti batas-batas jam yang ditentukan oleh BGN bisa kami lakukan dengan sesuai,” katanya.
Sementara itu, Lia Husnaini, Petugas Gizi SPPG Malaka menegaskan makanan yang dibagikan hari itu telah melewati proses pemeriksaan dan dinilai tidak bermasalah, mulai dari penerimaan bahan, proses produksi, hingga packing.
“Makanan hari ini sudah dicek dan tidak bermasalah. Dari mulai pemantauan penerimaan bahan, proses hingga packing tidak ada masalah,” katanya.
Ia menambahkan, menu serupa pernah dibagikan sebelumnya dengan prosedur yang sama. Bahkan, ia mengaku melakukan uji organoleptik sebelum makanan didistribusikan, termasuk mencicipi menu tersebut.
“Menu ini kami sudah lakukan sebelumnya dan prosesnya juga sama seperti sebelumnya, dari proses kontrol bahan, pengawasan proses, bahkan uji organ lab optik pun saya lakukan duluan, makannya saya makan dulu,” ujarnya.
Petugas gizi tersebut mengaku heran insiden itu tetap terjadi, dan menyatakan pihaknya menunggu hasil pemeriksaan lanjutan, termasuk uji laboratorium.
“Jadi saya heran, letaknya dimana. Ya kita tunggu hasil uji lab nanti,” katanya.
Hingga berita ini ditulis, pihak terkait masih melakukan penelusuran untuk memastikan penyebab keluhan puluhan siswa tersebut, sekaligus memastikan standar keamanan makanan program MBG berjalan sesuai ketentuan.








































