Lombokvibes.com, Lombok Utara – Hari Anak Nasional yang semestinya menjadi ruang tawa dan sorak gembira, justru berubah menjadi hari penuh air mata di Lapangan Tioq Tata Tunaq, Tanjung, Kabupaten Lombok Utara.
Lebih dari 50 anak dari berbagai desa yang telah berlatih berbulan-bulan batal tampil karena alasan yang menyayat yakni tidak ada operator sound system di tempat, dan penggunaan peralatan panggung disebut harus ditebus dengan uang sebesar satu juta rupiah.
Peristiwa ini terjadi pada Rabu, 23 Juli 2025, bersamaan dengan puncak perayaan HUT ke-17 Kabupaten Lombok Utara yang dirangkai dengan Hari Anak Nasional. Anak-anak yang telah datang dengan penuh semangat dan harapan terpaksa menelan kecewa di hadapan keluarga dan publik.
Menurut pengakuan dari Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kabupaten Lombok Utara, permintaan dana dilakukan secara mendadak oleh salah satu liaison officer. Uang tersebut disebut sebagai syarat mutlak agar penampilan komunitas anak bisa menggunakan sound system, meski sebelumnya pihak NGO telah aktif dalam rapat kepanitiaan dan sudah mendapat waktu tampil dari panitia utama.
“Air mata mereka sudah tumpah. Itu bukan hanya karena batal tampil, tapi karena harapan mereka direnggut begitu saja,” ungkap perwakilan LPA dalam pernyataan resmi di akun resmi LPA KLU, seperti yang terkutip (24/7/2025).
Aktivis perempuan sekaligus pendamping komunitas literasi anak, Nursyda Syam, menyampaikan bahwa sebagian anak berasal dari pelosok dan telah berlatih keras untuk menampilkan tarian, puisi, dongeng, gamelan, dan kasidah. Beberapa relawan bahkan pulang dari luar kota untuk mendampingi anak-anak di hari penting itu.
“Meski harus membayar satu juta atau bahkan lebih, kami sangat siap. Tapi tetap anak-anak tidak bisa tampil. Karena soundman tidak ada di tempat,” ujarnya.
Ia bahkan mengaku sempat berlari ke ATM di tengah acara demi memenuhi permintaan mendadak tersebut, namun upaya itu sia-sia.
Nursyda menegaskan bahwa masalah ini bukan kesalahan panitia utama ataupun Pemerintah Daerah Lombok Utara. Ia menyebut Ketua Panitia dari Dinas Pariwisata telah datang langsung meminta maaf dan menawarkan solusi tampil ulang pada hari penutupan.
Namun tawaran itu tak serta-merta menghapus kekecewaan yang telanjur dalam. Di mata anak-anak yang telah duduk rapi mengenakan kostum, harapan untuk unjuk bakat di depan publik berubah menjadi luka yang membekas.
“Kami tidak butuh validasi atau pengakuan. Yang kami mau hanya komitmen dan saling menjaga perasaan,” lanjut pernyataan dari LPA.
Dia menyebut, puncak dari semua ini adalah pembelajaran yang pahit, bahwa sebuah perayaan anak bisa gagal bukan karena kurangnya semangat atau kesiapan anak-anak, tetapi karena kelalaian dan kepentingan segelintir pihak yang lebih mementingkan birokrasi dan uang daripada kebahagiaan anak.
“Seperti kata Mamiq di lapangan tadi: Seperti inilah hidup. Akan ada intrik dan kelicikan. Tapi jangan sampai keburukan yang menimpa kita menyebabkan kita melakukan keburukan yang sama kelak,” tutur Nursyda.
Anak-anak akhirnya pulang dalam diam. Tidak ada gemuruh tepuk tangan atau senyum bangga. Hanya wajah-wajah kecil yang letih karena menunggu, dan hati yang patah karena harapan dipatahkan begitu saja.
Banyak netizen ramai-ramai membagikan dan mengomentari indisen tersebut. Tak sedikit juga yang mempertanyakan status Kabupaten Lombok Utara sebagai kabupaten layak anak.
Sementara itu, hingga laporan ini diterbitkan, belum ada klarifikasi dari pihak liaison officer (LO) yang disebut dalam insiden tersebut.

































