Lombokvibes.com, Lombok Utara – Di balik pesona wisata Gili Trawangan dan Gili Meno, tersimpan masalah serius yang mengancam kenyamanan wisatawan: krisis air bersih. Perumda Air Minum Amerta Dayan Gunung (PDAM) Lombok Utara mengakui keterbatasan pasokan air baku dari daratan menjadi hambatan utama dalam menyuplai kebutuhan air ke dua pulau tersebut.
Pemerintah Kabupaten Lombok Utara pun mengambil langkah strategis dengan mengandalkan teknologi Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) sebagai solusi penyediaan air bersih langsung dari laut.
Pelaksana tugas Direktur PDAM Lombok Utara, Wahyu Darmajati, menjelaskan bahwa kapasitas produksi air saat ini baru mencapai 217 liter per detik dari total potensi 317 liter per detik. Sayangnya, sisa 100 liter per detik belum bisa dimanfaatkan karena keterbatasan instalasi pengolahan air (IPA).
“Air baku dari permukaan harus melalui proses pengolahan agar memenuhi standar air minum sesuai Permenkes Nomor 2 Tahun 2023. Tapi kapasitas IPA kami masih terbatas,” jelas Wahyu, Kamis (17/7/2025).
Tak hanya itu, PDAM juga menghadapi tingkat kehilangan air atau Non-Revenue Water (NRW) yang cukup tinggi, yakni sebesar 39 persen atau sekitar 84,63 liter per detik. Kondisi ini diperparah oleh infrastruktur yang belum diperbarui sejak PDAM berdiri sendiri pada tahun 2013.
Dengan jumlah pelanggan mencapai 16.397 sambungan rumah, PDAM belum mampu menyediakan layanan distribusi air selama 24 jam penuh. Beberapa wilayah, seperti Kecamatan Bayan, harus menerima pasokan air dengan sistem giliran. Di wilayah lain seperti Gangga, Tanjung, dan Pemenang, air hanya tersedia pada malam hari.
Wahyu menambahkan, bahwa pembangunan IPA baru membutuhkan anggaran dan waktu yang tidak sedikit. Bahkan jika instalasi baru selesai dibangun, kebutuhan air lima tahun ke depan diperkirakan tetap belum bisa terpenuhi.
Di sisi lain, pemanfaatan sumber utama air baku dari mata air Jongplangka dibatasi hanya 20 persen dari total debit, sesuai PP Nomor 5 Tahun 2021 tentang Pengelolaan Sumber Daya Air.
Dengan segala keterbatasan tersebut, pembangunan sistem SWRO dinilai sebagai pilihan paling realistis untuk saat ini. Air laut yang diolah melalui teknologi SWRO akan menjadi sumber utama air bersih bagi kawasan Gili Indah.
“Saat ini memang belum memungkinkan untuk mengalirkan air dari daratan ke Gili. Karena itu, SWRO akan menjadi solusi utama,” tegas Wahyu.
Hingga pertengahan 2025, cakupan layanan air bersih PDAM Lombok Utara baru mencapai 28 persen dari target nasional sebesar 80 persen. Selain infrastruktur, kondisi geografis yang sulit, tekanan air yang rendah, wilayah rawan kekeringan, dan kebutuhan sektor pertanian menjadi tantangan tambahan.
“Pelayanan air bersih bukan hanya soal hari ini, tapi juga menyangkut masa depan. Dan untuk saat ini, Gili Indah belum bisa bergantung pada sistem air dari daratan,” tutup Wahyu.

































