Lombokvibes.com, Mataram – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) bersama Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia menegaskan komitmennya dalam menjaga dan melestarikan permainan tradisional anak sebagai bagian penting dari identitas budaya bangsa. Komitmen ini mengemuka dalam seminar bertajuk “Nilai Penting Permainan Rakyat & Olahraga Tradisional Bagi Anak” yang digelar Senin, 28 Juli 2025 di Expo Dekranasda, Halaman Epicentrum Mall, Mataram.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian Festival Olahraga Masyarakat Nasional (FORNAS) VIII Tahun 2025, yang tidak hanya menampilkan kekayaan olahraga tradisional, tetapi juga mengedepankan nilai-nilai sosial dan budaya yang terkandung di dalamnya.
Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi NTB, Sinta Agathia, hadir sebagai pembicara utama dalam seminar tersebut. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya momentum FORNAS sebagai langkah strategis menghidupkan kembali permainan rakyat di tengah tantangan modernisasi dan perkembangan teknologi digital.
“Kami ingin permainan tradisional kembali menjadi bagian dari kehidupan anak-anak NTB. Di tengah derasnya arus digital, inilah waktu yang tepat untuk mengembalikan ruang-ruang bermain yang mendidik sekaligus membentuk karakter,” ujar Sinta Agathia.
Sebelum acara dimulai, Sinta bersama Wakil Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Giring Ganesha Djumaryo, dan istrinya Cynthia Riza, sempat menjajal langsung berbagai permainan tradisional yang dipamerkan di lokasi acara. Suasana hangat dan interaktif tercipta saat mereka ikut berbaur dengan anak-anak dan pengunjung.
Wamen Giring dalam arahannya menyampaikan bahwa pelestarian permainan rakyat bukan semata nostalgia, tetapi bagian dari agenda besar kebudayaan nasional. Ia menekankan pentingnya kebudayaan sebagai wajah utama bangsa yang harus tampil terdepan dalam setiap langkah kemajuan.
“Permainan tradisional adalah ingatan kolektif yang membentuk kita. Ini bukan hanya warisan, tetapi juga masa depan. Presiden Prabowo ingin agar kebudayaan menjadi prioritas nasional yang bekerja 24 jam untuk melindungi dan memberdayakan aset budaya Indonesia,” kata Giring.
Ia juga menyinggung pembentukan Kementerian Kebudayaan sebagai institusi baru yang berdiri sendiri sejak Indonesia merdeka. Menurutnya, ini merupakan langkah revolusioner dalam memastikan perhatian khusus terhadap kelestarian budaya bangsa.
Giring menambahkan, bahwa keberhasilan FORNAS tahun ini membuka peluang besar agar event tersebut tidak hanya menjadi agenda dua tahunan, tapi bisa berkembang menjadi perayaan budaya tahunan yang melibatkan seluruh elemen masyarakat.
“Kita ingin sanggar tari, sanggar lukis, museum, film, dan permainan rakyat menjadi etalase utama Indonesia. Budaya harus selalu berada di garis depan,” ujarnya.
Melalui dukungan dari pusat hingga daerah, pelestarian permainan tradisional diharapkan tidak hanya bertahan sebagai warisan, tetapi juga menjadi bagian dari gaya hidup anak-anak Indonesia masa kini.

































