Pas lomba menunya mewah, giliran ke sekolah kok menunya beda? Netizen ramai sentil lomba MBG Loteng

Property of Lombokvibes.com
Property of Lombokvibes.com

Lombokvibes.com, Lombok Tengah โ€“ Lomba Cipta Menu Makan Bergizi Gratis (MBG) se-Lombok Tengah 2026 seharusnya menjadi panggung inovasi untuk menghadirkan makanan bergizi yang menarik bagi anak sekolah. Namun, kemeriahan perlombaan justru memantik kritik publik.

Sejumlah netizen mempertanyakan relevansi menu yang diperlombakan dengan makanan yang benar-benar diterima siswa setiap hari. Bahkan, ada yang mengusulkan agar penilaian tidak berhenti di atas panggung, tetapi dilakukan langsung di sekolah saat makanan hendak dikonsumsi penerima manfaat.

Kritik tersebut bermunculan di kolom komentar unggahan Diskominfo Lombok Tengah mengenai hasil Lomba Cipta Menu MBG yang digelar di Lapangan Trisol, Kantor Bupati Lombok Tengah, Sabtu (7/11/2026).

Salah satu komentar paling tajam datang dari akun Sams. Ia menilai penilaian seharusnya dilakukan berdasarkan kondisi nyata di lapangan, bukan hanya sajian yang dipersiapkan khusus untuk kompetisi.

“Harusnya kalau lomba begini penilaiannya langsung di sekolah-sekolah pas mau dimakan sama penerima makanan biar SPPG juga enggak asal ngasih menunya, sesuai realita di lapangan. Itu yang harusnya dinilai, bukan bikin acara MasterChef,” tulisnya.

Ia juga mempertanyakan apakah menu istimewa dalam perlombaan benar-benar akan menjadi standar makanan yang diberikan kepada siswa selama program berjalan.

Kritik senada disampaikan akun Insan Do’if. Ia menyindir besarnya perbedaan antara menu yang disajikan saat perlombaan dengan makanan yang diterima anak-anak di sekolah.

“Dapur SPPG semangat masak dengan porsi menu yang sangat mewah. Giliran yang di sekolah … dahlah,” tulisnya.

Sementara itu, akun Azizah Arshaka Malik menilai penilaian seharusnya mempertimbangkan konsistensi penyajian setiap hari.

“Lomba harusnya dinilai dari penyajian setiap hari ke sekolah. Kalau lomba cuma sepiring dua piring, kami ibu-ibu juga bisa,” komentarnya.

Akun Septia Sulistiawati Baiq juga menyoroti variasi menu yang dinilai masih menjadi persoalan dalam pelayanan sehari-hari.

“Menu lomba enak-enak, eh pas giliran menu untuk anak sekolah itu-itu saja, telur tahu tempe, telur tahu tempe,” tulisnya.

Bahkan, akun Whulan Whulan menyindir agar menu menarik tersebut tidak hanya muncul untuk kepentingan perlombaan.

“Menunya enak sama menarik hanya semata-mata untuk perlombaan di hari itu saja,” tulisnya.

Di sisi lain, akun Haji Wildan berharap kreasi makanan yang dilombakan benar-benar bisa diterapkan kepada penerima manfaat MBG.

“Mudahan menu yang dilombakan juga bisa disajikan ke penerima manfaat,” tulisnya.

Sorotan publik tersebut menjadi pengingat bahwa keberhasilan program MBG tidak cukup ditunjukkan melalui kreativitas menu dalam sebuah kompetisi.

Masyarakat juga ingin memastikan makanan yang diterima siswa memiliki kualitas, variasi, porsi, dan standar gizi yang baik secara konsisten.

Padahal, menu yang ditampilkan dalam perlombaan terbilang beragam. Pada kategori daging sapi, juara pertama diraih SPPG Batukliang Peresak 1 dengan menu nasi sate rembiga.

Kategori daging ayam dimenangkan SPPG Praya Timur Sukaraja 1 melalui ayam rarang daun pisang Lombok. Kategori telur dimenangkan SPPG Praya Barat Bonder dengan nasi kebuli telur dadar.

Sementara kategori ikan menjadi milik SPPG Kopang Montong Gamang 1 melalui sajian nila gurih Nusantara.

Kompetisi tersebut dinilai oleh dewan juri dari Poltekpar Lombok, BPOM, dan PERSAGI.

Pertanyaannya, apakah kreativitas dan standar menu yang berhasil ditampilkan para peserta lomba juga bisa dipertahankan dalam pelayanan MBG sehari-hari?

Sebab, yang dibutuhkan anak-anak bukan sekadar menu istimewa saat perlombaan, melainkan makanan bergizi, layak, bervariasi, dan berkualitas setiap kali program MBG disalurkan.

Jangan sampai yang dinilai hanya keindahan sepiring makanan di atas meja lomba, sementara kualitas makanan yang sampai ke meja siswa luput dari perhatian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!