Lombokvibes.com, Jakarta— Kekhawatiran publik terhadap isu Bahan Bakar Minyak (BBM) meningkat tajam menjelang awal April. Riset terbaru Deep Intelligence Research (DIR) mengungkap bahwa percakapan masyarakat didominasi rasa waspada, dipicu kombinasi isu global, kondisi domestik, hingga spekulasi kenaikan harga yang sempat beredar luas.
Dalam laporan yang dirilis Sabtu, DIR memetakan dinamika percakapan sepanjang 14 Maret hingga 1 April 2026. Periode ini menjadi krusial karena berada di fase menjelang puncak arus mudik, sekaligus diwarnai kabar kenaikan harga BBM per 1 April yang akhirnya tidak terbukti.
Lonjakan percakapan publik terdeteksi signifikan di penghujung Maret. Isu stok BBM dan sentimen global, termasuk konflik geopolitik, menjadi pemicu utama meningkatnya perhatian masyarakat.
Direktur Komunikasi DIR, Neni Nur Hayati, menyebut riset ini dilakukan secara komprehensif dengan memantau ribuan kanal informasi, mulai dari media arus utama hingga media sosial.
“Lembaga kami melakukan analisis terhadap 11.696 media siber nasional dan internasional, 242 media cetak di Indonesia, serta 32 media elektronik yang terdiri dari televisi dan radio. Selain itu, kami juga memantau seluruh platform media sosial seperti X, Facebook, Instagram, TikTok, YouTube, dan Threads,” ujar Neni.
Hasilnya menunjukkan kontras yang menarik antara media mainstream dan media sosial. Di media arus utama, sentimen pemberitaan cenderung positif.
“Hasil monitoring menunjukkan bahwa pemberitaan tentang isu BBM didominasi sentimen positif sebesar 71 persen, sentimen netral 4 persen, dan 26 persen sentimen negatif,” kata Neni.
Namun di ruang digital, situasinya berbeda. Emosi publik lebih didominasi oleh anticipation atau kewaspadaan.
“Di media sosial, emosi ‘anticipation’ menjadi narasi utama di hampir seluruh platform. Publik sangat reaktif terhadap isu penutupan Selat Hormuz dan konflik di Timur Tengah yang dikhawatirkan berdampak pada harga energi domestik,” jelasnya.
Secara keseluruhan, percakapan terkait isu ini mencapai 194.419 diskusi dengan jangkauan audiens lebih dari 910 juta dan tingkat interaksi menembus 302 juta engagement. Angka ini menunjukkan besarnya perhatian publik terhadap isu energi.
DIR juga menemukan adanya pola sikap wait and see yang kuat di masyarakat. Di satu sisi, publik menerima narasi positif dari pemerintah dan Pertamina terkait jaminan stok. Namun di sisi lain, keresahan tetap muncul di media sosial.
“Data kami menangkap adanya pola ‘wait and see’ yang sangat kuat dari masyarakat. Di media sosial seperti X dan Threads, terdapat emosi fear dan anger yang berkaitan dengan potensi krisis energi dan dampaknya terhadap biaya logistik,” tutur Neni.
Menariknya, diskursus publik tidak hanya berhenti pada kekhawatiran. Analisis word cloud DIR menemukan munculnya ide-ide alternatif dari netizen, salah satunya usulan penerapan Work From Home atau WFH sebagai langkah mitigasi jika tekanan energi terus meningkat.
Fenomena ini menunjukkan bahwa publik mulai adaptif dan mencari solusi di tengah ketidakpastian.
Meski demikian, DIR mengingatkan bahwa tingginya emosi kewaspadaan dapat menjadi pisau bermata dua jika tidak dikelola dengan baik.
“Emosi anticipation dalam media sosial yang terlalu tinggi seringkali menjadi pemicu panic buying dan bisa berubah menjadi kemarahan dalam waktu yang sangat cepat jika tidak dilakukan antisipasi,” tegas Neni.
Untuk itu, DIR merekomendasikan agar pemerintah dan pemangku kepentingan memperkuat komunikasi publik yang lebih empatik, responsif, dan berbasis data. Langkah ini dinilai penting untuk meredam spekulasi serta menjaga ruang digital tetap sehat.
Di tengah situasi ini, publik berharap ada kepastian dan solusi konkret agar potensi krisis energi tidak berkembang menjadi keresahan berkepanjangan.




























