Ekosistem tercekik wisata massal, BKKPN Kupang dorong exclusive tourism di Gili Matra

Property of Lombokvibes.com
Property of Lombokvibes.com

Lombokvibes.com, Lombok Utara – Tekanan wisata massal yang terus meningkat di Gili Meno, Air, dan Trawangan (Matra), mulai terlihat jelas dampaknya terhadap ekosistem. 

Dari pencemaran perairan, ancaman kanker pada penyu, hingga lalu lintas kapal yang memadati titik wisata, kawasan Tiga Gili kini berada dalam kondisi yang tidak lagi bisa dianggap enteng. 

Karena itu, konsep exclusive tourism mulai muncul sebagai arah baru penyelamatan kawasan.

Hal ini disampaikan oleh Martanina Taufan Marzuki, Koordinator BKKPN Kupang Wilker Gili Matra, dalam diseminasi hasil survei dan publikasi data biota dilindungi (21/11/2025) kemarin.

Ia menjelaskan, bahwa identifikasi penyu sejak 2023 menunjukkan perubahan kondisi yang mengkhawatirkan. Beberapa penyu yang awalnya sehat ditemukan kembali dalam kondisi sakit, bahkan ada yang mengalami kanker mata.

“Kami menemukan beberapa penyu kembali dalam kondisi yang jauh lebih buruk, ada yang diserang penyakit, ada yang menderita tumor. Ini indikasi ada tekanan lingkungan yang berat,” ujar perempuan yang akrab disapa Nonik itu.

Selain penyakit, ancaman paling sering datang dari luka propeller kapal. Lalu lintas kapal wisata sangat padat, terutama di titik snorkeling populer. 

“Di PT B saja, dalam satu waktu bisa ada hampir 50 kapal. Padat sekali, dan ini berisiko besar bagi penyu yang naik ke permukaan untuk bernapas,” jelasnya.

Penyakit yang menyerang penyu juga diduga berkaitan dengan organisme parasit yang tumbuh akibat pencemaran perairan. Untuk penanganan khusus, dibutuhkan keahlian medis dan fasilitas yang belum sepenuhnya tersedia di kawasan.

Padahal, nilai ekonomi pariwisata tiga gili sangat besar, mencapai 7,5 triliun rupiah per tahun, dengan sebagian besar berasal dari wisatawan mancanegara. 

“Hasil riset kami bersama BRIN dan UNDIP, itu ada lebih dari 80% wisatawan melakukan snorkeling dan diving, ini menjadi bukti bahwa  terumbu karang dan biota laut sebagai daya tarik utama pariwisata di Gili,” tegas Martanina.

Dengan tekanan ekologis meningkat, ia menilai Lombok Utara memiliki peluang besar mengadopsi konsep exclusive tourism. 

Alih-alih memburu jumlah kunjungan, sistem ini membatasi wisatawan sesuai daya dukung (carrying capacity) kawasan, sehingga wisata tetap bernilai tinggi tanpa merusak ekosistem.

“Kalau kunjungannya ribuan setiap hari padahal daya dukung hanya lima ratus, tekanan lingkungannya pasti berat. Dengan exclusive tourism, kita batasi sesuai kapasitas. Pengelolaan jadi lebih sehat, pengalaman wisata lebih baik,” paparnya.

Beberapa instansi, termasuk Bappeda, disebut sudah mulai melakukan kajian ke arah ini. 

“Ya semoga nanti bisa diimplementasikan, karena ini sangat urgent. Kita harus memperbaiki kualitas lingkungan, dan memberi waktu bagi ekosistem untuk pulih,” tegasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!