Lombokvibes.com, Mataram— Tidak ada sorot lampu panggung yang berlebihan. Tidak pula ada selebrasi penuh gegap gempita. Tapi dari sebuah rumah sederhana di sudut Sandubaya, Kota Mataram, tumbuh sebuah perjalanan musik klasik yang dirawat dengan telaten, penuh ketekunan, dan kesadaran. Itulah Pathanam String Ansamble—kelompok musik gesek yang menjadikan proses sebagai inti dari setiap langkah.
Perjalanan Pathanam tidak dimulai dari ambisi untuk tampil. Justru sebaliknya, ia tumbuh dari keinginan untuk membaca dan memahami. Berakar dari FORGES (Forum Gesek) Mataram, tempat para pemain gesek muda dibina dalam teknik dasar, interpretasi, dan kerja kolektif, Pathanam hadir sebagai fase lanjutan. Ia bukan sekadar kelanjutan logis, melainkan kelahiran kembali dalam bentuk baru: lebih matang, lebih sadar.
Didirikan oleh Beny Permana, musisi klasik sekaligus pengajar musik di UNU NTB, Pathanam String Ansamble dibentuk sebagai ruang pembelajaran lanjutan, tempat para alumni FORGES mengasah keterampilan musikal mereka dalam konteks yang lebih kompleks.
Anggotanya saat ini terdiri dari Jingga Bunga Hati, Gilang Miharman, Kayla Thanisa Putri, Lindy Heureka Prawiranegara (violin), Beny Permana dan Putu Dayang Purnama Dewi (viola), serta Ranto Rahadi (cello).
Debut publik mereka terjadi pada 9 Mei 2025, dalam Lailatul Art #8 di Taman Budaya Mataram. Pada penampilan ini, mereka memutuskan untuk membawa partitur ke panggung—sebuah keputusan yang mereka ambil bukan karena keterbatasan, tapi sebagai pernyataan artistik: bahwa membaca adalah bagian dari penciptaan, dan partitur bukan beban, melainkan sumber makna.
Penampilan itu mencapai puncaknya saat Putu Dayang Purnama Dewi tampil membawakan Viola Concerto in G Major karya Georg Philipp Telemann. Karya yang ditulis awal abad ke-18 ini menjadi ajang pembuktian bahwa interpretasi dan emosi tidak harus datang dari usia, tetapi dari pemahaman dan kejujuran musikal.

Kini, setelah mencatat langkah pertamanya, Pathanam tengah bersiap untuk proyek berikutnya. Bukan satu, tapi dua karya besar telah masuk dalam agenda latihan intens mereka.
“Yang pertama itu Summer dari siklus The Four Seasons karya Antonio Vivaldi—sebuah karya penuh vitalitas, kontras dinamis, dan gambaran dramatis tentang musim panas dalam bahasa musik Barok. Dan yang kedua, Violin Concerto No. 1 in A minor karya Jean-Baptiste Accolay—sebuah karya dari periode romantik yang kerap menjadi tonggak awal bagi para violinist muda Meski populer sebagai karya “transisi”, konserto ini tetap menuntut kepekaan frase, intonasi yang presisi, dan pengendalian emosi,” beber Beny Permana beberapa waktu lalu.
Dia menjelaskan, bagi Pathanam, mempersiapkan karya bukan hanya tentang bermain dengan benar. Namun, tentang memahami konteks sejarah, mempelajari gaya zamannya, mendiskusikan interpretasi, dan membaca ulang setiap frase dengan kesadaran penuh.
“Latihan kami di sini dengan diskusi yang kadang lebih panjang dari durasi bermain. Kami mempersiapkan dengan sebaik mungkin, karena kami tidak ingin sekadar main, namun menyampaikan,” jelasnya.
Dari FORGES ke panggung publik, dan kini menuju karya-karya besar yang lebih menantang, Pathanam String Ansamble sedang menapaki jejak yang jarang dipilih. Jalan yang sunyi, pelan, tapi pasti menuju kedalaman musikal. Dan siapa tahu, dari kota kecil di timur Indonesia ini, akan lahir gema besar yang menggetarkan dunia musik klasik nasional.



































