SDN 6 Tanjung hanya dapat satu siswa baru, Disdikbud KLU soroti mutu sekolah dan dampak zonasi

Property of Lombokvibes.com
Property of Lombokvibes.com

Lombokvibes.com, Lombok Utara – Kondisi memprihatinkan dialami SD Negeri 6 Tanjung, Kabupaten Lombok Utara (KLU), pada pelaksanaan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun ajaran 2026/2027. Hingga akhir Juni 2026, sekolah tersebut baru menerima satu calon siswa baru untuk kelas 1.

Minimnya jumlah pendaftar itu menjadi perhatian serius Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Lombok Utara. Kepala Disdikbud KLU, M. Najib, menyebut ada sejumlah faktor yang diduga menjadi penyebab rendahnya minat masyarakat menyekolahkan anak di SDN 6 Tanjung.

Salah satunya adalah masih adanya trauma sebagian masyarakat terhadap peristiwa lama yang pernah terjadi di sekolah tersebut, yakni robohnya tembok sekolah sebelum bencana gempa Lombok.

“Kalau saya pelajari khusus untuk SD 6 ini, yang membuat trauma orang tua menyekolahkan di situ katanya pernah ada kejadian tembok roboh sebelum gempa. Saya sendiri baru tahu informasi ini,” ujar Najib, Senin (29/6/2026).

Selain faktor psikologis tersebut, Najib menilai kualitas pembelajaran dan kepercayaan masyarakat terhadap mutu sekolah juga menjadi persoalan yang harus segera dibenahi.

Menurutnya, masyarakat saat ini semakin selektif dalam memilih sekolah bagi anak-anak mereka. Karena itu, sekolah dituntut mampu menunjukkan kualitas pendidikan yang baik serta prestasi yang membanggakan.

“Kalau mendengar informasi dari sekolah sekitar, kualitas pembelajaran itu sangat penting diusahakan bagus. Karena terbukti ketua komitenya saja tidak menyekolahkan anaknya di situ,” katanya.

Disdikbud KLU menegaskan bahwa penerapan sistem zonasi tetap harus berjalan sesuai aturan yang berlaku. Namun demikian, sekolah juga perlu melakukan berbagai inovasi untuk meningkatkan daya tarik di mata masyarakat.

Peningkatan mutu pendidikan, pengembangan prestasi siswa, kegiatan kreatif, hingga publikasi karya peserta didik dinilai menjadi langkah penting untuk membangun kembali kepercayaan publik.

“Sekarang satu-satunya cara adalah bersaing dari sisi mutu. Kalau sekolah mampu mencetak lulusan yang berkualitas, masyarakat pasti tertarik memasukkan anaknya tanpa harus disuruh,” tegas Najib.

Di sisi lain, keberadaan sekolah swasta di sekitar wilayah Tanjung juga menjadi tantangan tersendiri. Berbeda dengan sekolah negeri yang terikat zonasi, sekolah swasta memiliki keleluasaan menerima siswa dari berbagai wilayah.

“Sekolah swasta bisa menerima murid dari mana saja, tidak hanya sekitar wilayah itu. Itu juga membuat kondisi siswa baru semakin berat,” jelasnya.

Saat ini jumlah keseluruhan siswa SDN 6 Tanjung dari kelas 1 hingga kelas 6 hanya berkisar 40 orang. Sementara satu-satunya calon siswa baru yang telah mendaftar pun masih mempertimbangkan keputusannya karena khawatir tidak memiliki teman sekelas.

“Baru hari ini dapat satu siswa. Itu pun belum berani memastikan kalau tidak ada temannya. Makanya kita carikan teman agar dia mau sekolah di situ,” ungkap Najib.

Disdikbud KLU berharap SDN 6 Tanjung dapat bangkit melalui peningkatan kualitas layanan pendidikan dan prestasi sekolah, sehingga kepercayaan masyarakat kembali tumbuh dan jumlah peserta didik dapat meningkat pada tahun-tahun mendatang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!