Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKKPN) Kupang rutin melakukan survei biota laut yang dilindungi di Gili Air, Gili Meno, dan Gili Trawangan. Hasil terbaru menunjukkan dominasi Penyu Hijau serta ekosistem karang yang masih aman, jadi indikator positif keberlanjutan laut Lombok Utara.
Lombokvibes.com, Lombok Utara – Air jernih dan karang yang terhampar di perairan Gili Matra (Meno, Trawangan, dan Air) terus menjadi pusat perhatian tim konservasi laut. Tim Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKKPN) Kupang baru saja menyelesaikan survei biota laut dilindungi di kawasan ini. Hasilnya menunjukkan populasi penyu hijau masih mendominasi, sementara kondisi ekosistem karang tetap stabil.
Survei terhadap keamanan biota laut ini dilakukan setiap tahunnya secara berkala. Sepanjang tahun 2025, survei ini dilakukan pada 11–16 Agustus dan 13–18 Oktober 2025.
Staf BKKPN Kupang Wilker Gili Matra, Hotmariyah, menjelaskan dalam survei ini terdapat 24 titik pengamatan tersebar di Tiga Gili. Setiap stasiun diberi kode PGM (Penyu Gili Matra) untuk memantau populasi biota laut dan mega fauna di kawasan konservasi.
Disebutkannya, kegiatan survei ini menjadi bagian dari pemantauan rutin untuk memastikan keberlanjutan kehidupan bawah laut di kawasan konservasi tersebut.
“Kita menggunakan metode Roving Survey—penyisiran area perairan dengan pengamatan langsung terhadap kemunculan biota, dimana tim mencatat jenis, jumlah, ukuran, jenis kelamin, perilaku, dan melakukan dokumentasi foto serta video untuk Photo ID,” sebutnya, kemarin.
“Output dari kegiatan ini adalah monitoring biota laut dilindungi seperti penyu, kima, hiu, dan biota lainnya. Data dan foto ID yang dikumpulkan menjadi dasar evaluasi pengelolaan kawasan,” sambungnya.
Penyu Hijau Mendominasi Temuan

Dari dua periode survei, tim mencatat dua spesies penyu yang masih aktif di kawasan Gili Matra: Penyu Hijau (Chelonia mydas) dan Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata). Dari seluruh individu yang ditemukan, 87 persen merupakan Penyu Hijau dan 13 persen Penyu Sisik.
Rata-rata ukuran karapas Penyu Hijau mencapai 48 sentimeter, sementara Penyu Sisik sekitar 42 sentimeter. Berdasarkan jenis kelamin, 96 persen berjenis betina, sisanya jantan.
Kemunculan tertinggi terjadi di site Hans Reef, tempat tim menemukan delapan individu penyu hanya dalam waktu pengamatan 55 menit.
Hiu Karang Sirip Putih Muncul di Empat Lokasi

Selain penyu, keberadaan Hiu Karang Sirip Putih (Triaenodon obesus) juga terdeteksi di beberapa titik pengamatan. Hiu jenis ini terlihat di Glen Nusa, Shark Point, Sunset Reef, dan Halik Reef, dengan rata-rata panjang tubuh mencapai 109 sentimeter.
Namun, selama pengamatan, tim tidak menemukan biota lain seperti ikan Napoleon atau Pygmy Seahorse.
“Hanya Pari Tutul Biru Ekor Pita (Taeniura lymma) yang muncul, spesies yang menurut daftar IUCN masih berstatus “Least Concern”,” jelasnya.
Ekosistem Karang Masih Aman
Dari hasil observasi visual, kondisi ekosistem karang di Gili Matra tergolong aman. Meski ada peningkatan tutupan karang, perubahan itu belum signifikan.
Hotmaria menegaskan, pihaknya tetap memprioritaskan tiga target konservasi utama: terumbu karang, ikan karang, dan padang lamun.
“Hasil survei menunjukkan populasi biota dilindungi masih relatif stabil. Ini jadi indikator positif bahwa fungsi kawasan konservasi tetap berjalan baik,” tambah Hotmariyah.

Menjaga Laut, Menjaga Kehidupan
Dia pun menekankan, kegiatan survei berkala ini menjadi pijakan penting bagi BKKPN Kupang dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut di Gili Matra.
“Data dan dokumentasi lapangan menjadi dasar penyusunan kebijakan konservasi yang berkelanjutan, agar laut tidak hanya lestari, tapi juga terus memberi manfaat bagi kehidupan dan pariwisata di Lombok Utara,” pungkasnya.

































