Dari garis abrasi menuju ikon wisata hijau, inilah sosok di balik Pantai Cemare Indah Lombok Barat

Property of Lombokvibes.com
Property of Lombokvibes.com

Lombokvibes.com, Lombok Barat — Tersembunyi di balik rindangnya pepohonan mangrove dan cemara laut, Pantai Cemare Indah di Dusun Cemare, Desa Lembar Selatan, kini tampil sebagai wajah baru wisata pesisir Lombok Barat. 

Keindahan alamnya yang alami bukan hadir begitu saja, melainkan lahir dari perjuangan panjang warga, dipelopori oleh seorang pemuda bernama Mus’ab, dalam menyelamatkan pesisir yang dulu hampir punah.

Beberapa tahun silam, kondisi pantai ini memprihatinkan. Hanya tersisa empat batang pohon cemara laut, sementara hutan mangrove rusak akibat alih fungsi lahan tambak. Ancaman abrasi dan banjir rob menghantui kampung nelayan ini.

Melihat kondisi tersebut, Mus’ab bersama sekelompok pemuda desa mulai bergerak. Mereka melakukan pendekatan dari rumah ke rumah, mengajak warga untuk kembali menanam mangrove dan cemara laut. Kesadaran bahwa menyelamatkan pesisir berarti menyelamatkan masa depan kampung menjadi fondasi gerakan ini.

Perjalanan mereka tidak sendiri. Dukungan besar datang dari Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Lombok Barat. PMI tak hanya menyediakan bibit dan pelatihan teknis, tetapi juga membekali masyarakat dengan edukasi penting soal mitigasi bencana ekologi. Aksi tanam massal pun rutin dilakukan, memperkuat upaya konservasi yang berkelanjutan.

“Peran PMI Lombok Barat sangat besar. Mereka memfasilitasi penyediaan bibit cemara laut, memberi edukasi, hingga membantu dalam aksi tanam massal. Ini yang memperkuat gerakan kami di lapangan,” terang Mus’ab.

Kini, hasil kerja keras itu mulai terasa. Garis pantai yang dulunya terancam abrasi berubah menjadi benteng alami. Cemara laut tumbuh subur, membentang dari ujung utara hingga selatan pantai, menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang datang.

Lebih dari sekadar destinasi, Cemare Indah telah menjadi laboratorium hidup pendidikan lingkungan. Bersama komunitas konservasi, Mus’ab menggagas eco-tour dan vilage-tour (wisata keliling kampung ) untuk memperkenalkan aktivitas tradisional seperti menjala ikan, membuat garam, hingga proses penanaman mangrove. Bahkan anak-anak di Dusun Cemare pun telah mendapatkan materi literasi pesisir agar tumbuh dengan kecintaan terhadap alam melalui program Literasi Pesisir.

“Kalau hanya orang dewasa yang peduli, gerakan ini tak akan langgeng. Makanya anak-anak pun kami ajari sejak dini tentang ekosistem laut, pentingnya mangrove, dan bahaya sampah plastik,” imbuhnya.

Peningkatan ekonomi warga pun turut terdongkrak. Rumah bibit mangrove dikelola langsung oleh masyarakat, menjadi sumber penghasilan baru dari penyemaian dan penjualan bibit. Warung angkringan, penyewaan alat wisata, hingga pemandian air bersih mulai tumbuh di sepanjang pantai, membuka lapangan kerja lokal.

Namun, Mus’ab tak menutup mata terhadap tantangan yang ada. Minimnya dukungan infrastruktur dari pemerintah menjadi ganjalan utama. Ia berharap setelah Dusun Cemare masuk nominasi Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) tahun 2022, perhatian pemerintah tidak berhenti sebatas piagam penghargaan semata.

“Harus ada tindak lanjut. Setidaknya penyediaan tong sampah memadai, toilet bersih, akses jalan yang layak. Ini penting agar wisatawan nyaman dan mau kembali lagi,” tegasnya.

Bagi Mus’ab, menjaga ekosistem pantai bukan sekadar proyek lingkungan, tapi panggilan jiwa untuk menyelamatkan kampung halamannya dari ancaman bencana di masa depan. “Kami tidak ingin meninggalkan kerusakan bagi generasi anak cucu. Konservasi ini soal keberlanjutan hidup,” pungkasnya.

Dengan semangat kolektif warga, dukungan PMI, komunitas konservasi maunppun NGO serta tangan-tangan muda seperti Mus’ab dan kawan-kawan. Pantai Cemare Indah tak hanya menjadi ikon wisata baru di Lombok Barat, tetapi juga bukti bahwa gerakan akar rumput bisa menyelamatkan lingkungan dan membawa perubahan nyata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!