Lombokvibes.com, Lombok Tengah-Di sebuah sudut dusun Dasan Lekong, Batu Keliang, Lombok Tengah, suara gamelan kecil terdengar lirih dari balik rumah sederhana. Seorang anak laki-laki memegang wayang kulit di balik kelir buatan. Namanya Rofidan Zamir Affan, atau akrab disapa Rofid — bocah kelahiran Oktober 2015 yang namanya kini mulai dikenal di jagat seni pedalangan Indonesia.
Perjalanan Rofid bukan bermula dari sanggar seni megah atau warisan dalang ternama. Semuanya dimulai dari kesenangan sederhana: menonton pertunjukan wayang di YouTube bersama sang ayah dan kakek.
Namun, dari layar kecil itu tumbuhlah kecintaan besar yang mengubah kertas putih HVS menjadi panggung impian.
Sang ayah, Hasan Basri, melihat bakat anaknya dan menyulap gambar wayang dari internet menjadi boneka-boneka mini dari kertas HVS, dilaminating, dilengkapi bambu sebagai pegangan, lampu sorot seadanya, dan kelir kecil buatan rumah. Di situlah Rofid kecil mulai belajar menjadi dalang—dengan kesungguhan yang jauh melebihi usianya.
Langkah Rofid tak berhenti di rumah. Ia mulai belajar langsung di Sanggar Seni Jati Swara, setelah dikenalkan oleh Paman Jumirah kepada Ki Dalang Sukardi.
Kesan pertama Ki Sukardi begitu kuat hingga ia datang langsung ke rumah Rofid dan mengajaknya berlatih rutin.
“Langka sekali anak seusia ini yang punya minat dan bakat dalam wayang,” ujar putra bungsu Hasan Basri dan Endang Supiyatun, S.Pd.SD itu dengan bangga.
Tangan mungil Rofid sempat gemetar ketika memegang wayang kulit asli untuk pertama kali. “Senang sekali, tapi berat, terutama gunungan,” katanya polos.
Namun semangatnya tak pernah kendur. Dari latihan di sanggar, ia melangkah ke panggung besar: Gedung Teater Tertutup Taman Budaya NTB saat Parade Wayang 2022—di usianya yang baru tujuh tahun.

Sejak itu, Rofid menapaki panggung demi panggung: Juara 2 Lomba Tembang Sasak, Juara Anak Berbakat di Festival Anak Lombok Tengah, pembuka acara Geofest Internasional 2023, hingga dua kali mewakili NTB di Festival Dalang Anak Nasional (FDA). Namanya juga tercatat dalam pertunjukan kolaboratif “Pertale Gumi Paer” di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta.
Wayang bukan sekadar permainan bagi Rofid. Ini adalah caranya berbicara, merawat warisan, dan membangun mimpi. Pesan dari Ketua Pepadi Pusat terpatri kuat di ingatannya: agar ia menjadi duta seni wayang kulit untuk generasi muda NTB. Sebuah amanah yang dijalani dengan penuh cinta dan dedikasi.
Kini, setiap panggilan tampil disambutnya dengan semangat. Rofid terus berlatih, mengasah diri, dan membuktikan bahwa mimpi besar bisa tumbuh dari tempat paling sederhana—selama ada cinta dan tekad untuk merawatnya.
Dari kertas HVS ke panggung prestisius, Rofid menenun kisah yang tak hanya menginspirasi, tapi juga menyalakan harapan: bahwa seni tradisional masih bisa hidup—lewat tangan mungil, suara polos, dan hati yang penuh cahaya.








































