Lombokvibes.com, Lombok Barat– Kabar membanggakan datang dari Nusa Tenggara Barat. Seorang pemuda asal Dusun Lekong Siwak, Desa Tanak Beak, Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat, berhasil mengharumkan nama Indonesia di panggung internasional setelah meraih juara dalam ajang bergengsi CG Connect 3D Awards 2026 yang digelar di Polandia.
Adalah Irfan Hadiaturrahman (23), seorang 3D Artist muda yang sukses menyabet penghargaan yang kerap dijuluki sebagai “Piala Oscar” dunia visualisasi arsitektur (architectural visualization/archviz).
Pengumuman pemenang dilakukan pada Minggu (21/6/2026) pukul 19.15 waktu Polandia atau 00.15 WIB. Kemenangan tersebut menjadikan Irfan sebagai satu-satunya perwakilan dari kawasan Asia Pasifik yang berhasil membawa pulang trofi pada kompetisi bergengsi yang diikuti para seniman digital, studio visualisasi, dan profesional kreatif dari berbagai negara.
“Saya sangat bersyukur dan sejujurnya masih sedikit tidak menyangka. Banyak orang di industri ini menyebut CG Connect 3D Awards sebagai Piala Oscar-nya visualisasi arsitektur. Mengingat standar kompetisinya yang luar biasa tinggi, penghargaan ini menjadi pembuktian atas dedikasi dan proses belajar saya selama ini,” ujar Irfan.
Yang menarik, karya yang mengantarkan Irfan menjadi juara justru tampil berbeda dari kebanyakan karya visualisasi arsitektur modern yang identik dengan bangunan sempurna dan tertata rapi.
Ia menghadirkan sebuah bangunan bata dengan bentuk geometris yang tegas, namun fokus utama justru diarahkan pada seekor ayam yang berdiri di bagian depan gambar. Elemen sederhana tersebut menjadi simbol bagaimana kehidupan nyata sering kali berjalan di luar skenario yang dirancang manusia.
“Arsitektur dirancang secara presisi dan terencana, tetapi ketika bertemu realita semuanya berubah. Saya menampilkan bangunan yang sangat geometris, namun fokus utama justru hadir melalui seekor ayam di bagian depan. Ayam tidak mengerti geometri dan tidak peduli dengan alur sirkulasi yang dirancang arsiteknya. Di situlah arsitektur menjadi panggung bagi kehidupan yang tidak tertebak,” jelasnya.
Dalam proses kreatifnya, Irfan memanfaatkan perangkat lunak Blender untuk pemodelan tiga dimensi, tekstur, pencahayaan hingga rendering. Sementara teknologi kecerdasan buatan (AI) digunakan sebagai sentuhan akhir guna memperkuat atmosfer visual yang ingin disampaikan.
Menurutnya, tantangan terbesar bukan terletak pada aspek teknis, melainkan menciptakan hubungan yang alami antara objek utama dan lingkungan sekitarnya.
“Saya menggunakan sudut pandang low-angle agar narasi visualnya lebih kuat. Menyatukan subjek ayam di foreground dengan bangunan geometris di background membutuhkan banyak percobaan hingga tercipta harmoni yang diinginkan,” katanya.
Keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa talenta-talenta muda NTB mampu bersaing di level global. Irfan mengaku, bekal yang diperolehnya selama menempuh pendidikan di Program Studi Arsitektur Universitas Mataram turut berkontribusi besar dalam membentuk cara berpikir dan kualitas karyanya.
“Pemahaman arsitektural membuat visualisasi saya terasa masuk akal dan memiliki pijakan realitas yang kuat. Selain itu, budaya studio di kampus membentuk disiplin serta cara berpikir kreatif saya hingga sekarang,” ungkapnya.
Di balik pencapaian internasional itu, Irfan juga menyimpan rasa terima kasih mendalam kepada kedua orang tuanya yang selama ini menjadi sumber dukungan terbesar dalam perjalanan kariernya.
“Mereka sangat bahagia dan bangga. Dukungan ibu dan bapak adalah jangkar emosional saya. Prestasi ini menjadi hadiah yang manis untuk membalas kesabaran mereka dalam mendukung pilihan karier saya,” tuturnya.
Prestasi di Polandia kini membuka jalan yang lebih luas bagi Irfan di dunia internasional. Karya pemenangnya dijadwalkan tampil dalam pameran pada Architecture in Perspective International Conference di Washington D.C., Amerika Serikat.
Tak hanya memperluas jaringan profesional dan meningkatkan kepercayaan klien internasional, kesempatan tersebut juga menjadi langkah awal bagi cita-citanya mengembangkan karier di bidang Architecture for Fiction and Entertainment, sektor kreatif yang menggabungkan dunia arsitektur dengan industri film serta permainan digital.
Kepada generasi muda Indonesia, khususnya mahasiswa arsitektur dan kreator digital, Irfan berpesan agar tidak hanya berfokus pada penguasaan teknologi.
“Teknologi akan terus berkembang. Karena itu, asah kepekaan arsitektur, pelajari fotografi, tata cahaya, dan komposisi. Teruslah bereksplorasi, terbuka terhadap kritik, serta jangan takut mengukur kemampuan diri melalui kompetisi tingkat global,” pungkasnya.
Prestasi Irfan menjadi bukti bahwa karya besar bisa lahir dari pelosok daerah dan mampu berbicara di panggung dunia. Dari Narmada, Lombok Barat, namanya kini dikenal di salah satu ajang paling prestisius dalam industri visualisasi arsitektur internasional.




























