Lombokvibes.com, Lombok Utara – Siapa yang tak kenal sosok “Nak Tuan” di media sosial? Dengan gaya khas, logat Sasak “Dayan Gunung” Lombok Utara yang kental, dan konten komedi yang menghibur, karakter tersebut sukses mencuri perhatian ribuan penonton. Di balik sosok “Nak Tuan” ternyata ada perjuangan panjang yang dilalui Siti Rukmana (32) alias Lena Mecun bersama sang suami, yang dikenal sebagai “Man Tuan”.
Perjalanan mereka sebagai content creator tidak dimulai dengan perencanaan besar atau modal yang melimpah. Semua berawal dari sebuah kebiasaan sederhana, yakni mengunggah video dan foto ke media sosial hanya untuk mengisi waktu luang.
“Awalnya iseng-iseng upload video dan foto. Lama-kelamaan akun saya dimonetisasi. Dari situ kami mulai berpikir untuk serius membuat konten,” kata Lena Mecun kepada Lombokvibes.com, kemarin.
Namun jalan menuju kesuksesan tidak langsung terbuka. Meski sudah mendapatkan monetisasi, konten-konten yang mereka buat saat itu belum memberikan hasil yang memuaskan.
Alih-alih menyerah, Lena dan suaminya justru memilih belajar lebih dalam tentang dunia digital. Dari proses itulah mereka menemukan satu kunci penting yang kemudian mengubah perjalanan karier mereka sebagai kreator konten.
“Kami pelajari lagi. Ternyata yang paling penting itu membangun personal branding dulu. Akhirnya kami mengubah konsep dan menciptakan karakter Nak Tuan dengan kostum khas yang sekarang dikenal banyak orang,” ujarnya.
Keputusan itu menjadi titik balik. Karakter Nak Tuan perlahan melekat di hati penonton. Konten-konten mereka mulai ramai ditonton, jumlah pengikut terus bertambah, dan penghasilan pun meningkat dari waktu ke waktu.
Di tengah maraknya tren konten digital, Lena memilih fokus pada komedi berbahasa Sasak. Menurutnya, komedi merupakan hiburan yang bisa diterima oleh semua kalangan.
“Menurut saya komedi itu sangat relevan untuk semua usia. Yang paling penting, kita bisa menghibur orang lain,” katanya.
Dukungan terbesar dalam perjalanan tersebut datang dari sang suami. Sosok yang kini dikenal sebagai Kak Tuan itu bukan hanya menjadi pasangan hidup, tetapi juga partner kreatif di balik layar.
“Suami saya yang pertama kali mendukung. Kebetulan dia juga suka editing video, jadi kami saling melengkapi,” ujar Lena.
Menariknya, ide konten yang mereka buat sering kali lahir dari hal-hal sederhana yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari.
“Ide bisa datang dari mana saja. Bahkan melihat kaleng di tengah jalan pun bisa jadi ide konten kalau kita kreatif mengolahnya. Selain itu, inspirasi juga banyak datang dari media sosial dan lingkungan sekitar,” katanya.
Sebagian cerita yang mereka tampilkan juga terinspirasi dari kehidupan masyarakat Lombok. Meski demikian, Lena mengaku selalu berhati-hati agar materi komedi yang disajikan tidak menyinggung pihak tertentu.
“Kami selalu cek dulu sebelum upload. Kami pikirkan apakah ada yang tersinggung atau tidak. Itu yang selalu kami jaga,” ujarnya.
Prinsip tersebut membuat konten Nak Tuan dikenal sebagai hiburan yang ringan, lucu, dan tetap sopan.
“Itu memang bagian dari komitmen kami. Kami ingin konsisten membuat konten yang lucu, sopan, dan menghibur,” katanya.
Tak hanya menjadi sarana hiburan, konten-konten yang dibuat Lena juga menjadi media untuk memperkenalkan budaya dan bahasa Sasak kepada khalayak yang lebih luas.
“Bahasa Sasak sangat penting. Selain mendapatkan penghasilan dari konten, kami juga bisa memperkenalkan bahasa daerah kami. Kami bangga menggunakan bahasa Sasak dalam setiap konten,” ujarnya.
Menurut Lena, media sosial saat ini memiliki peran besar dalam menjaga eksistensi budaya lokal di tengah arus globalisasi.
“Sangat bisa. Sekarang media sosial sangat penting untuk memajukan apa saja, termasuk budaya daerah,” katanya.
Berkat kekuatan media sosial, konten Nak Tuan kini tidak hanya ditonton masyarakat NTB. Banyak penonton dari berbagai daerah di Indonesia bahkan luar negeri yang turut menikmati karya mereka.
“Media sosial tidak punya batas. Bahkan ada juga penonton dari luar negeri yang mengikuti konten kami,” ungkapnya.
Meski terlihat menyenangkan, dunia content creator tetap memiliki tantangan tersendiri. Bagi Lena, tantangan terbesar justru datang dari diri sendiri.
“Kadang rasa malas datang, ditambah kesibukan lain. Itu tantangan terbesar kami,” ujarnya.
Komentar negatif pun tak jarang menghampiri. Namun hal itu tidak pernah membuat mereka berhenti berkarya.
“Kalau komentar negatif pasti ada. Itu hal yang wajar di media sosial. Yang penting jangan sampai membuat kita berhenti berkarya,” katanya.
Setelah tiga tahun berkarya, Lena mengaku salah satu pencapaian yang paling membanggakan adalah ketika konten yang dibuat mampu menghasilkan pendapatan jutaan rupiah setiap bulan.
“Dapat gaji jutaan dari konten tentu membuat kami bangga. Itu hasil dari proses dan konsistensi yang panjang,” ujarnya.
Respons masyarakat Lombok Utara terhadap karakter Nak Tuan juga sangat positif. Banyak penonton yang mengaku terhibur dan menjadikan konten mereka sebagai hiburan sehari-hari.
“Alhamdulillah banyak yang memberikan respons baik. Banyak juga yang bilang mereka terhibur dengan konten kami,” katanya.
Lena percaya content creator lokal memiliki peran besar dalam membangun citra daerah. Melalui karya-karya digital, berbagai sisi positif Lombok dapat dikenal lebih luas.
“Kita bisa menunjukkan hal-hal positif dari daerah kita kepada masyarakat luar,” ujarnya.
Ke depan, Lena memiliki mimpi sederhana namun mulia. Ia ingin terus berkembang di dunia digital sekaligus memperbanyak sedekah dari hasil yang diperoleh.
“Saya ingin menghasilkan uang sebanyak-banyaknya agar bisa lebih banyak bersedekah,” tuturnya.
Kepada generasi muda Lombok Utara yang bercita-cita menjadi content creator, Lena berpesan agar tidak mudah menyerah ketika menghadapi proses yang panjang.
“Teruslah membuat karya yang positif, menarik, dan bermanfaat. Jangan menyerah dan jangan putus asa. Istirahat boleh, berhenti jangan,” pesannya.
Menurut Lena, kesuksesan tidak datang kepada mereka yang cepat menyerah.
“Karena menyerah adalah kunci kegagalan, bukan kesuksesan. Kesuksesan datang kepada orang yang terus bertahan dan tidak gampang menyerah,” pungkasnya.




























