Penulis Arianto Adi P: Konsisten membumikan dialek Lombok Utara dalam setiap karya

Property of Lombokvibes.com
Property of Lombokvibes.com

Lombokvibes.com, Lombok Utara– “Menulis dari akar”- semangat itulah yang terus menjadi alasan Arianto Adi Purwanto, sastrawan muda kelahiran Lombok Utara itu, dalam setiap karya-karya yang ditelurkannya.

Di tengah derasnya arus modernisasi dan globalisasi bahasa, Arianto Adi Purwanto justru memilih jalan sebaliknya: membumikan Bahasa Ibu.

Penulis buku Bugiali (2018) dan Iblis Tanah Suci (2024) itu terus konsisten menulis dengan menggunakan dialek khas Lombok Utara (KLU), termasuk dalam karya terbarunya yang berbentuk cerita anak berjudul Bale Balaq Baloq Dulinep

Cerita anak yang terpilih untuk dipublikasikan pada Sayembara Kepenulisan Cerita Anak 2025 oleh Balai Bahasa Provinsi NTB itu, akan terbit dalam dua bahasa: Bahasa Indonesia dan Bahasa Sasak khas Lombok Utara. 

Pilihan Arianto terus konsisten menggunakan dialek Keto-Kete, milik Gumi Dayan Gunung itu, bukanlah tanpa alasan. 

Menurutnya, penggunaan bahasa dan nama-nama lokal merupakan keputusan sadar yang lahir dari kedekatan emosional dengan kampung halaman.

“Menulis dengan setting yang jelas, seperti kampung halaman saya, mau tidak mau harus saya sertai dengan bahasa dan nama-nama yang khas. Itu bagian dari keutuhan cerita,” ujar pria kelahiran 1 November 1993 itu.

Baginya, bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga cermin identitas dan ruang refleksi terhadap budaya. Itulah sebabnya, saat menulis tentang kehidupan kampung di dekat hutan—yang dalam ceritanya kerap diwakili oleh tempat kelahirannya bernama Lelenggo—Arianto merasa nama-nama lokal menjadi bagian penting dari narasi.

2c884b41-8338-4a84-864a-93362abd8229
(Foto: Arianto Adi Purwanto, Penulis/dok.istimewa)

“Kalau nama-nama lokal itu diganti dengan yang kekinian, nuansa cerita saya akan berubah. Nama adalah bagian dari atmosfer,” tambahnya.

Kecintaan Arianto terhadap kampung halaman dan dialek Sasak Lombok Utara tidak muncul begitu saja. Ia mengaku ketertarikannya tumbuh perlahan, terutama saat menerjemahkan cerpen berbahasa Indonesia miliknya ke dalam bahasa Sasak. Dari situ, muncul tantangan dan dorongan untuk menggali lebih dalam kekayaan budaya lokal.

Kini, melalui cerita anak terbaru miliknya yang ditulis dalam bahasa Sasak KLU, Arianto tak hanya memperkenalkan budaya lokal kepada pembaca muda, tetapi juga merawat warisan linguistik yang kian terpinggirkan.

“Saya ingin anak-anak tahu bahwa bahasa kampung mereka bisa jadi bagian dari sastra, dari dunia cerita yang indah dan bermakna,” tutupnya.

< a title=" milad bima 2025" target="_blank">

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!