Belajar dari gempa 2018, Lombok Utara rancang kurikulum sekolah mitigasi bencana

IMG_0677
IMG_0677

Lombokvibes.com, Lombok Utara– Dalam upaya memperkuat kesiapsiagaan masyarakat sejak usia dini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lombok Utara menggelar kegiatan pembahasan kerangka bahan ajar Pengurangan Risiko Bencana (PRB) untuk satuan pendidikan. 

Acara yang berlangsung di Angkringan Balap, Desa Medana, pada 26–27 Agustus 2025 ini menjadi langkah strategis untuk menjadikan pendidikan sebagai fondasi dalam membangun budaya sadar bencana.

Kepala Pelaksana BPBD Lombok Utara, M. Zaldi Rahadian menegaskan, bahwa pembentukan kurikulum PRB bukan sekadar agenda kelembagaan, tetapi sebuah kebutuhan mendesak yang lahir dari pengalaman pahit gempa besar yang mengguncang wilayah ini pada 5 Agustus 2018.

“Semoga pembelajaran mitigasi bencana dapat menjadi bagian integral dari proses pendidikan, tidak hanya berupa teori, tetapi juga berbasis pengalaman nyata,” ujarnya.

Ia juga mendorong dokumentasi tragedi 2018 dalam bentuk video edukatif yang dapat disesuaikan dengan usia peserta didik.

Kegiatan ini menghadirkan berbagai pihak penting, di antaranya Ketua Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) KLU Budiawan, Kabid Dikdas Dikbudpora KLU H. Ali Marjati, SPAB Specialist Agus Siswoaji Utomo, Ketua Unit Layanan Disabilitas (ULD) BPBD NTB, pengawas sekolah, serta tokoh-tokoh masyarakat.

Budiawan menambahkan, bahwa integrasi literasi kebencanaan ke dalam kurikulum sekolah sangat penting untuk membangun kesiapan mental anak-anak dalam menghadapi situasi darurat. 

“Sangat penting adanya kolaborasi semua unsur, dari pemerintah daerah, dunia pendidikan, hingga masyarakat sipil untuk merumuskan kerangka ajar yang konkret dan aplikatif,” tegasnya.

Kegiatan ini juga merujuk pada Peraturan Bupati Lombok Utara Nomor 43 Tahun 2023 tentang Pedoman Gerakan Literasi Kebencanaan. Aturan tersebut menjadi dasar legal yang mendorong keterlibatan aktif seluruh OPD dan lembaga pendidikan dalam program mitigasi.

Diskusi dua hari ini bukan hanya menjadi forum koordinasi, tetapi juga ruang kolaborasi antarelemen, termasuk komunitas penyandang disabilitas dan relawan kebencanaan. 

“inklusivitas menjadi bagian penting dalam membangun sistem pendidikan siaga bencana,” sebutnya.

Dengan semangat gotong royong dan visi jangka panjang, Lombok Utara menapaki langkah baru dalam membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga tangguh dalam menghadapi risiko bencana. Program ini juga diharapkan menjadi percontohan bagi daerah lain yang memiliki kerentanan serupa.

< a title=" milad bima 2025" target="_blank">

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *