Dosen dihargai Rp300 ribu, influencer belasan juta: Ketika “respect” tak lagi seharga ilmu

Property of Lombokvibes.com
Property of Lombokvibes.com

Lombokvibes.com, Mataram— Sebuah unggahan di media sosial akademisi dan dosen asal Nusa Tenggara Barat (NTB), Ahmad Junaidi., PhD, menuai perhatian luas warganet. Melalui unggahan di Instagram pribadinya @junaydfloyd, ia membagikan pengalamannya diundang sebagai pembicara dalam sebuah acara mahasiswa yang berbayar, namun menerima apresiasi yang dianggap tidak sepadan.

Dalam ceritanya, Junaidi mengungkap bahwa acara tersebut mengundangnya sebagai dosen dan praktisi sesuai bidang keahliannya. Acara itu diketahui berbayar dan diikuti ratusan peserta umum. Menariknya, panitia juga mendatangkan seorang influencer dengan biaya mencapai belasan juta rupiah, mencakup tiket, riders, dan honor.

“Seminggu setelah acara, saya dikirimi 300 ribu rupiah,” tulis Junaidi dalam unggahannya, seperti yang dikutip lombokvibes, kemarin.

“Atas kiriman ini, saya menulis bahwa mahasiswa harus belajar dengan pesan ini: be respectful,” tambahnya.

Ia menegaskan, ketidaknyamanan muncul bukan karena nominal uang, tetapi karena kurangnya penghargaan terhadap keahlian akademisi lokal. “Dengan biaya belasan juta mendatangkan influencer, harusnya mahasiswa bisa lebih pantas dalam penghargaan pada pembicara dosen lokalnya,” ujarnya.

Menurutnya, karena acara tersebut bersifat berbayar dan bukan amal, wajar apabila pembicara akademisi mendapat apresiasi yang pantas. Ia juga menyampaikan bahwa dirinya tidak menggunakan rate card dan tak masalah jika harus berbagi secara sukarela, asalkan konteksnya jelas.

“Gratis pun saya tak masalah. Sudah tak terhitung saya menjadi pembicara selama 11 tahun jadi sukarelawan aktif. Tapi ketika acara berbayar mendatangkan influencer belasan juta dan mengundang saya, saya harus ajari kalian makna respect,” tulisnya lagi.

Junaidi juga menegaskan bahwa ia tidak menuntut honor setara dengan influencer, melainkan menuntut adanya penghormatan terhadap posisi dan kontribusi akademisi.

“Belasan juta vs 300 ribu itu terlalu jauh,” katanya. Ia berharap mahasiswa dan penyelenggara kegiatan lain bisa belajar tentang makna penghargaan terhadap akademisi, termasuk yang berasal dari institusi lokal.

Dalam penutup unggahannya, ia menegaskan bahwa kritiknya bukan ditujukan untuk menjatuhkan pihak mana pun, melainkan sebagai refleksi bersama. “Ini bukan serangan pada organisasi tertentu atau influencer tertentu. Ini untuk kita semua,” tulisnya.

Ia menambahkan, dirinya selalu bersedia hadir di acara mahasiswa, baik berbayar maupun tidak, selama acara tersebut disiapkan dengan profesional dan penuh penghargaan. “Dengan senang hati saya akan berbagi di manapun. Tanpa dibayar sudah sangat biasa, asalkan acaranya jelas dan tepat waktu. Kalau acaranya pagi, tolong siapkan kopi,” ujarnya menutup dengan nada ringan.

Unggahan tersebut sontak viral dan mendapat beragam tanggapan dari warganet, mulai dari dukungan hingga perdebatan soal nilai apresiasi terhadap tenaga akademik di tengah budaya populer yang semakin mengutamakan figur influencer.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!