Lombokvibes.com, Bali— Kerja Sama Regional Bali–Nusa Tenggara Barat–Nusa Tenggara Timur (KR BNN) resmi memasuki tahap implementasi dengan fokus pada lima bidang strategis sebagai motor utama integrasi kawasan. Lima bidang tersebut meliputi pariwisata dan ekonomi kreatif terintegrasi, pengembangan super grid energi terbarukan, penguatan perdagangan antarprovinsi, pengembangan konektivitas transportasi laut, udara, dan penyeberangan, serta integrasi perencanaan pembangunan regional.
Pertemuan ketiga KR BNN yang digelar di kawasan ITDC The Golo Mori ini menandai pergeseran kerja sama dari tahap komitmen politik menuju aksi nyata lintas sektor. Para kepala perangkat daerah dari ketiga provinsi menandatangani perjanjian kerja sama teknis sebagai turunan langsung dari MoU yang sebelumnya telah disepakati.
Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal menegaskan, lima bidang kerja sama ini dirancang sebagai satu kesatuan sistem pembangunan kawasan. Setiap sektor saling terhubung dan memperkuat satu sama lain demi menciptakan ekosistem ekonomi regional yang utuh.
“Kerja sama ini tidak berdiri sendiri-sendiri. Pariwisata butuh konektivitas, konektivitas butuh energi, perdagangan butuh sistem logistik yang kuat, dan semuanya harus dikawal oleh perencanaan yang terintegrasi. Inilah wajah baru kerja sama regional Bali–NTB–NTT,” ujar Miq Iqbal.
Di bidang pariwisata, ketiga provinsi sepakat mengembangkan konsep pariwisata terintegrasi berbasis paket kawasan. Bali diposisikan sebagai hub pariwisata internasional, NTB sebagai destinasi sport tourism dan pariwisata halal, sementara NTT sebagai unggulan wisata bahari dan ekowisata. Sinergi ini diharapkan mampu memperpanjang masa tinggal wisatawan dan meningkatkan nilai ekonomi kawasan.
Pada sektor energi, NTB menyatakan kesiapan memimpin studi kelayakan pengembangan super grid energi terbarukan kawasan Bali–NTB–NTT. Potensi energi surya, angin, air, dan panas bumi yang besar di tiga provinsi akan dikoneksikan sebagai satu sistem energi bersih untuk mendukung ketahanan energi nasional sekaligus mendorong transisi menuju energi hijau.
Sementara di bidang perdagangan, kerja sama diarahkan pada penguatan arus distribusi komoditas unggulan antarprovinsi. Produk pertanian, peternakan, perikanan, hingga UMKM akan dipadukan dalam skema perdagangan regional dengan Bali sebagai pintu masuk pasar nasional dan internasional.
Pengembangan konektivitas transportasi menjadi bidang strategis berikutnya. Konektivitas laut, penyeberangan, dan udara akan diperkuat untuk memperlancar mobilitas barang dan orang antarwilayah. Gubernur NTB menyebut, peningkatan rute penerbangan dari dan menuju NTB yang kini mencapai 27 rute menjadi bukti awal bahwa integrasi kawasan sudah berjalan.
Adapun bidang kelima, integrasi perencanaan pembangunan regional, menjadi fondasi agar seluruh kerja sama berjalan berkelanjutan. Ketiga provinsi sepakat menyelaraskan dokumen perencanaan pembangunan agar kebijakan lintas sektor dan lintas wilayah tidak berjalan sendiri-sendiri.
Sebagai tuan rumah, Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena menegaskan kesiapan NTT menjadi pusat koordinasi melalui pembentukan Sekretariat Bersama KR BNN. Sekretariat ini akan menjadi rumah besar bagi pengawalan implementasi lima bidang kerja sama strategis tersebut.
Sementara itu, Gubernur Bali I Wayan Koster menegaskan bahwa kerja sama ini harus menjadikan Bali, NTB, dan NTT sebagai satu kesatuan kawasan ekonomi dan pariwisata, bukan berkembang secara parsial.
Melalui fokus pada lima bidang strategis ini, Kerja Sama Regional Bali–NTB–NTT diarahkan menjadi model kolaborasi antarprovinsi yang konkret, terukur, dan berdampak langsung bagi kesejahteraan masyarakat. Kawasan Bali–Nusra diproyeksikan sebagai poros baru pertumbuhan ekonomi Indonesia Timur berbasis integrasi sektor, energi bersih, dan konektivitas regional.



































