Lombokvibes.com, Lombok Utara — Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Lombok Utara (KLU) menemukan satu kasus suspek campak pada seorang anak yang berasal dari Dusun Sira, Desa Sigar Penjalin, Kecamatan Tanjung, pada Januari 2026. Hingga kini, hasil pemeriksaan laboratorium masih ditunggu untuk memastikan apakah kasus tersebut benar merupakan infeksi virus campak.
Kepala Dinas Kesehatan Lombok Utara, dr. H. Lalu Bahrudin, M.Kes mengatakan sampel pasien telah dikirim untuk pemeriksaan laboratorium di Surabaya. Pihaknya masih menunggu hasil resmi untuk memastikan diagnosis.
“Jadi menurut kami ya bisa jadi itu bukan campak, tapi kita tunggu hasil lab,” ujar Bahrudin (16/3/2026).
Meski masih berstatus suspek, Dinas Kesehatan tetap melakukan pemantauan intensif terhadap lingkungan sekitar pasien. Berdasarkan pemantauan selama 14 hari setelah anak tersebut dicurigai terinfeksi, hingga Maret 2026 tidak ditemukan adanya gejala penularan kepada anak lain di wilayah tersebut.
“Tapi dari pemantauan kami, tidak ada penularan di wilayah tersebut,” katanya.
Bahrudin menjelaskan, virus campak dikenal sangat mudah menular, bahkan tingkat penyebarannya lebih cepat dibandingkan beberapa penyakit infeksi lain seperti tuberkulosis. Karena itu, pengawasan terhadap kemungkinan penularan tetap dilakukan secara ketat.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa infeksi campak pada umumnya tidak berujung pada kematian apabila ditangani secara cepat dan tepat oleh tenaga medis.
“Virus campak tidak berisiko menyebabkan kematian jika ditangani cepat dan tepat. Yang bisa menyebabkan kematian biasanya komplikasi dari infeksi virus tersebut,” jelasnya.
Anak yang menjadi suspek kasus tersebut diketahui telah mendapatkan imunisasi dasar secara lengkap. Namun Bahrudin menegaskan bahwa vaksin tidak sepenuhnya menutup kemungkinan seseorang terinfeksi suatu penyakit, melainkan berfungsi memperkecil risiko serta dampak yang ditimbulkan.
“Seperti BCG itu untuk antisipasi TBC, tapi bukan berarti anak tidak bisa kena TBC. Tetap berisiko, hanya saja vaksin memperkecil potensi,” ujarnya.
Di Lombok Utara sendiri, cakupan imunisasi dasar disebut sudah sangat tinggi dan hampir menyentuh angka 100 persen. Meski demikian, pemerintah masih menemukan beberapa wilayah yang masyarakatnya menolak vaksin karena kekhawatiran tertentu.
“Sebenarnya di Lombok Utara bisa dibilang sudah 100 persen, hanya saja masih ada beberapa tempat atau wilayah yang menolak vaksin karena takut,” kata Bahrudin.
Saat ini, Dinas Kesehatan Lombok Utara tetap melakukan pemantauan sambil menunggu hasil laboratorium untuk memastikan status kasus tersebut. Pemerintah daerah juga terus mendorong masyarakat untuk melengkapi imunisasi dasar guna memperkecil risiko penularan berbagai penyakit menular, termasuk campak.




























