7,5 triliun duit berputar di Gili Tramena, BKKPN: Investasi boleh, asal laut tetap terjaga

Property of Lombokvibes.com
Property of Lombokvibes.com

Lombokvibes.com, Lombok Utara – Tiga Gili di Lombok Utara (Trawangan, Meno, dan Air) dikenal sebagai destinasi wisata strategis nasional sekaligus sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang besar. Namun, Koordinator BKKPN Kupang wilayah kerja Gili Matra, Martanina, mengingatkan bahwa pengelolaan kawasan harus tetap memperhatikan kelestarian ekosistem laut agar potensi pariwisata tidak justru merusak aset utama.

Martanina menyebutkan, eksisting pemanfaatan tiga gili untuk pariwisata sudah tinggi. “Status Tiga Gili itu kan kawasan strategis pariwisata nasional. Ini istilahnya tambang emasnya Lombok Utara,” ujarnya.

Menurutnya, pencabutan kawasan konservasi hutan di tiga gili mungkin bisa dilakukan, tetapi tetap harus diselaraskan dengan konservasi laut. “Jangan sampai di laut zonanya inti konservasi, tapi di darat justru zona pariwisata penuh pembangunan. Aktivitas di darat sangat berdampak langsung ke laut,” tegasnya.

Martanina menambahkan, survei menunjukkan hampir 90 persen wisatawan datang ke tiga gili untuk menikmati keindahan bawah laut. Dengan kata lain, kelestarian laut menjadi kunci utama daya tarik wisata.

Nilai ekonomi dari pariwisata tiga gili juga luar biasa. “Uang yang berputar di Gili ini mencapai Rp7,5 triliun per tahun. Sekitar Rp7,2 triliun dari wisatawan asing dan Rp3 miliar dari wisatawan domestik. Nilai itu berasal dari akomodasi, transportasi, kuliner, dan berbagai layanan wisata lainnya,” ujarnya.

Ia menekankan, pemerintah daerah harus menjaga prinsip perlindungan kawasan dan tidak terlalu mudah memberikan izin pembangunan di darat. “Kalau izin terus bertambah, bisa berdampak buruk ke objek wisata dan ekosistem laut. Pembangunan darat harus dikelola bijak,” katanya.

Sejak 2022, Pemda Lombok Utara dan Pemerintah Provinsi NTB telah membentuk kelompok kerja (Pokja) untuk meninjau pencabutan kawasan hutan di tiga gili. Namun Martanina menekankan, meski kawasan eksisting sudah banyak, penerbitan izin baru tetap harus hati-hati karena prosesnya sulit dan setiap aktivitas berpotensi berdampak pada laut.

“Pokoknya, pengelolaan kawasan darat dan laut harus seimbang. Gili Tramena ini ‘tambang emas’ kita, tapi kalau dikelola tanpa aturan jelas, bisa habis nilainya. Jadi bijaklah dalam mengambil keputusan, supaya pariwisata dan kelestarian lingkungan tetap berjalan beriringan,” tutupnya.

< a title=" milad bima 2025" target="_blank">

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!