Menelusuri jejak sejarah Raja dan Upacara Suci di Taman Narmada Lombok

Property of Lombokvibes.com
Property of Lombokvibes.com

Lombokvibes.com, Lombok Barat – Di balik rindangnya pepohonan dan tenangnya kolam-kolam di tengah Kota Narmada, tersimpan sebuah kompleks sejarah yang menyimpan kisah kerajaan, spiritualitas, dan budaya Bali yang merasuk ke tanah Lombok sejak abad ke-18. 

Taman Narmada, yang berjarak sekitar 9 kilometer dari pusat Kota Mataram, bukan sekadar taman wisata biasa. Di sinilah sejarah dan keagungan masa lampau masih bernafas hingga hari ini.

Dibangun pada tahun 1727 oleh Raja Anak Agung Ngurah Gde Agung dari Kerajaan Karangasem, Bali, Taman Narmada menjadi simbol kekuasaan sekaligus pusat kegiatan spiritual Hindu. Tempat ini dulunya adalah lokasi utama pelaksanaan upacara sakral Mulean Pakelem, sebuah persembahan ke Danau Segara Anak di Gunung Rinjani yang dipercaya sebagai tempat bersemayamnya dewa-dewi Hindu.

Kini, meski tak lagi dipenuhi para raja dan punggawa, pengunjung masih bisa menyaksikan sisa kejayaan itu lewat situs-situs bersejarah yang tersebar di dalam kompleks taman.

Salah satunya adalah Bale Agung, bekas tempat tinggal sang raja yang berdiri megah di antara bangunan lainnya. Tak jauh dari sana, terdapat Bale Terang, tempat berlangsungnya musyawarah kerajaan. 

Sementara itu, Bale Loji yang berada di sisi kiri dan kanan Bale Terang diyakini sebagai gudang penyimpanan persenjataan kerajaan, lengkap dengan ruang bawah tanah yang oleh warga sekitar diyakini dulunya adalah penjara rahasia.

Di sisi spiritual, terdapat Pura Kelasa yang masih aktif digunakan sebagai tempat persembahyangan. Pura ini menjadi titik orientasi sakral bagi seluruh bangunan penting lainnya di dalam taman. Di dekatnya, berdiri Bale Petirtaan yang kini lebih dikenal sebagai kolam awet muda, karena dipercaya airnya membawa keberkahan dan kesegaran abadi.

Tak hanya itu, ada pula Petirtaan Umum, kolam renang yang dipercantik dengan pancuran berbentuk arca atau jaladwara di setiap sisinya. Di tengah kolam, berdiri sebuah bangunan suci yang desainnya menyerupai bangunan di Taman Mayura, menambah kesan spiritual dan estetis.

Menuruni area taman, pengunjung akan menemukan Telaga Ageng, sebuah kolam luas yang menjadi pusat ritual Mulean Pakelem. Kolam ini bukan sembarang kolam—ia adalah replika Danau Segara Anak di kaki Gunung Rinjani. Di sekelilingnya, berdiri patung-patung dari batu andesit, seperti Ganesha dan Dewi, serta sebuah pura kecil yang menjaga ketenangan tempat ini.

Di sudut lain taman, Telaga Padma Wangi yang dahulu menjadi tempat pemandian para dayang kini berubah fungsi menjadi kolam pancing. Sementara itu, di dekat gerbang utama, terdapat Telaga Kembar dan sebuah pura kecil di samping Bale Agung, yang dulunya menjadi tempat persembahyangan pribadi sang raja, menghadap langsung ke Pura Kelasa dan puncak Rinjani yang suci.

Taman Narmada bukan hanya tempat wisata; ia adalah cermin dari nilai-nilai spiritual, politik, dan sosial masa lalu yang masih bisa kita saksikan hari ini. Melangkah di antara batu-batu dan kolam-kolamnya, seolah membawa kita menyusuri lorong waktu menuju masa ketika kekuasaan dan kesucian berjalan berdampingan. Sebuah warisan yang tak hanya layak dikunjungi, tapi juga dimaknai.

< a title=" milad bima 2025" target="_blank">

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *