Lombokvibes.com, Mataram– Di Lombok, setiap hidangan memiliki cerita. Salah satu yang paling sarat makna adalah poteng jaje tujaq, sajian khas masyarakat Sasak yang tak hanya memanjakan lidah, tapi juga menyampaikan pesan-pesan kehidupan.
Dihadirkan dalam momen-momen penting seperti Maulid Nabi, Lebaran Idul Fitri, Lebaran Topat, hingga ritual adat, poteng jaje tujaq merupakan simbol yang menyatukan rasa, keyakinan, dan identitas kultural.
Poteng adalah tape ketan—dihasilkan dari proses fermentasi ketan putih atau hitam, yang direndam, dikukus, diberi ragi, lalu dibiarkan hingga matang sempurna. Sementara jaje tujaq dibuat dari ketan kukus yang dicampur dengan parutan kelapa dan sedikit air garam, lalu ditumbuk hingga kalis dan dibungkus daun pisang. Disajikan bersama, keduanya membentuk satu paket sajian yang bukan hanya untuk dinikmati, tetapi juga untuk dimaknai.
Poteng mengandung filosofi tentang penyucian dan pembentukan diri. Fermentasi yang memerlukan kesabaran mencerminkan proses spiritual manusia dalam mencari kedekatan dengan Tuhan. Tidak ada yang instan dalam hidup; semuanya butuh waktu untuk mencapai kematangan yang sejati.
Di sisi lain, jaje tujaq melambangkan kebersamaan. Proses pembuatannya dilakukan bersama-sama, melibatkan keluarga atau warga satu kampung. Inilah wujud nilai begibung—hidup dalam semangat gotong royong dan saling menopang. Makanan ini tak lahir dari dapur pribadi, tapi dari kebersamaan.
Rasa manis dan asam dari poteng berpadu dengan gurihnya jaje tujaq, menciptakan harmoni rasa yang mencerminkan keseimbangan hidup.
Dalam pandangan masyarakat Sasak, kehidupan yang baik adalah yang seimbang: antara suka dan duka, antara dunia dan akhirat, antara laki-laki dan perempuan. Simbol ini selaras dengan alam Lombok sendiri, seperti Rinjani dan Segara Anak—gunung dan danau—dua elemen yang harus hidup berdampingan.
Lebih dari itu, poteng jaje tujaq juga berfungsi sebagai persembahan. Dalam setiap upacara, sajian ini menjadi tanda penghormatan kepada leluhur dan ekspresi rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa. Sebuah pengingat bahwa makanan bukan hanya untuk tubuh, tapi juga untuk jiwa.
Poteng jaje tujaq bukan hanya soal rasa, tapi tentang nilai.
Dalam sepiring sajian, tersimpan ajaran-ajaran tentang kesucian, solidaritas, keseimbangan, dan spiritualitas. Nilai-nilai yang membentuk masyarakat Sasak dari generasi ke generasi, dan terus hidup dalam tradisi yang dirawat dengan kesadaran penuh.








































