Beatriff hadirkan buku “(Se-)Putar Musik”, angkat musik sebagai wacana sosial dan budaya

Tanpa judul (1920 x 1080 piksel)
Tanpa judul (1920 x 1080 piksel)

Lombokvibes.com, Mataram – Kolektif media musik independen asal Mataram, Beatriff, resmi meluncurkan buku perdana mereka bertajuk “(Se-)Putar Musik” pada Sabtu (7/6) di MVP Coffee Company. Buku ini menjadi penanda penting bagi Beatriff dalam memperluas diskusi seputar musik, yang tak lagi hanya dilihat dari sudut hiburan semata, tetapi juga sebagai ruang gagasan sosial, budaya, hingga politik.

Acara peluncuran berlangsung hangat dan interaktif, dipandu oleh Kadek Osi dan menampilkan diskusi bersama tim editor dan redaksi Beatriff. Diskusi dipandu Dede Anggrian, sementara penampilan musik diisi oleh Ross Famz yang menambah semarak suasana.

Direktur Beatriff, Gilang Sakti Ramadhan, menjelaskan bahwa buku “(Se-)Putar Musik” adalah upaya mendokumentasikan pemikiran alternatif tentang musik yang jarang mendapat ruang di media arus utama.

  • 83874463-b8ed-4966-bdfc-9883d6705836
  • 44c535a5-dc5b-45cf-b6ae-2ae6defe40a8
  • 0bccce03-3918-46c7-88b2-75d5c5837735
  • 2a413a41-45fb-4f70-bf5c-6778cb8eb409
  • 0bccce03-3918-46c7-88b2-75d5c5837735

“Musik di buku ini tidak hanya dipandang sebagai produk hiburan, tapi juga sebagai arena pertarungan ide, relasi kekuasaan, bahkan wacana identitas. Buku ini adalah hasil dari upaya mengarsipkan pemikiran-pemikiran yang jarang mendapat ruang di media arus utama,” ungkap Gilang dalam siaran pers.

“(Se-)Putar Musik” memuat beragam esai yang menelisik berbagai aspek industri musik, kerja kolektif di skena lokal, posisi musisi dalam ekosistem kreatif, hingga persoalan struktural dan kultural di balik dunia musik. Proses kurasi dilakukan secara terbuka tanpa batasan tema yang kaku, demi merangkul keragaman perspektif dari para penulisnya.

Sementara, editor buku, Kiki Sulistyo, menggambarkan proses penyusunan buku ini seperti meracik album musik. Ia menyusun ulang puluhan tulisan dari kanal digital Beatriff ke dalam tiga bagian utama.

“Kalau versi digital bisa diibaratkan demo version atau radio version, maka buku cetak ini adalah album version—lebih utuh, terjaga, dan matang,” terang Kiki. 

Ia bahkan menyamakan konsep buku ini dengan triple album dalam musik populer, mengingatkan pada Atum: A Rock Opera in Three Acts dari The Smashing Pumpkins.

Setiap bagian dalam buku ini dirancang agar mampu memicu diskusi dan pemikiran lebih lanjut tentang peran musik dalam kehidupan sosial. 

Peluncuran buku ini juga menjadi bentuk apresiasi terhadap para penulis yang telah menyumbangkan gagasan mereka di kanal digital Beatriff, kini diabadikan dalam bentuk cetak.

Dengan kehadiran “(Se-)Putar Musik”, Beatriff menegaskan posisinya sebagai ruang alternatif bagi kajian dan kritik musik di Indonesia. Buku ini menjadi ajakan untuk membaca musik bukan hanya sebagai kumpulan nada, tetapi juga sebagai narasi dan makna yang hidup di tengah masyarakat.

< a title=" milad bima 2025" target="_blank">

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!