Lombokvibes.com, Lombok Barat – Taman Narmada menjadi saksi semangat baru dalam pelestarian budaya Sasak lewat perhelatan Keris Lombok Bewaran 2025 yang digelar bertepatan dengan bulan Muharram 1447 H.
Tak sekadar seremoni tahunan, acara ini diangkat sebagai gerakan budaya yang dikemas dalam bingkai pariwisata berkelas dunia.
Agenda budaya ini dirancang untuk menggugah kembali kebanggaan masyarakat terhadap warisan leluhur, khususnya keris yang selama ini hanya dikenal sebagai benda pusaka. Dalam kegiatan ini, keris diangkat sebagai ikon budaya hidup yang mengandung nilai sejarah, spiritualitas, dan jati diri masyarakat Sasak.
Berbagai kegiatan digelar, mulai dari ritual Mandiang Kris, sarasehan budaya, hingga pameran keris dari berbagai zaman. Salah satu momen penting adalah peresmian Maul Hayat, sebuah mata air yang diyakini sakral dan sarat nilai historis. Penandatanganan prasasti revitalisasi budaya menjadi simbol dimulainya babak baru pelestarian kearifan lokal di Lombok Barat.
Bupati Lombok Barat dalam sambutannya menekankan, pentingnya mengemas tradisi lokal menjadi kekuatan ekonomi dan daya tarik global. Ia menegaskan bahwa warisan budaya tidak boleh berhenti sebagai tontonan internal komunitas, melainkan harus dikembangkan menjadi agenda budaya yang bisa mendunia.
“Kalau Bali punya tari kecak, kita punya keris dan peresean. Ini tinggal bagaimana kita kemas dan pasarkan dengan serius,” ujarnya di hadapan tokoh adat, pejabat daerah, pelajar, dan masyarakat umum yang hadir memadati kawasan Taman Narmada.
Kehadiran tokoh adat seperti Pengerakse Agung Majelis Adat Sasak, Ketua DPRD Lombok Barat, para kepala OPD, hingga para camat dan kepala desa, menunjukkan dukungan penuh terhadap agenda kebudayaan ini. Semangat pelibatan generasi muda juga terasa kuat dengan partisipasi pelajar dari wilayah Narmada dan Lingsar.
Dalam laporan panitia, dijelaskan, bahwa keris bukan sekadar senjata tradisional, melainkan representasi kecerdasan kolektif bangsa yang telah diakui UNESCO sebagai warisan dunia sejak 2005.
“Nilai-nilai filosofi dan spiritual di balik penciptaannya menjadikan keris sebagai simbol keagungan budaya yang tidak bisa direplikasi bangsa lain,” katanya.
Keris Lombok Bewaran 2025 sendiri diharapkan menjadi tonggak baru dalam membangun ekosistem pariwisata budaya berbasis kearifan lokal.
Dengan pelibatan masyarakat dan dukungan pemerintah, acara ini bukan hanya membuka lembaran baru promosi budaya Sasak, tapi juga menempatkan Lombok sebagai pemain utama dalam diplomasi budaya dunia.








































