Lombokvibes.com, Mataram – Band hardcore asal Mataram, Shinigami, resmi mengumumkan album terbaru mereka bertajuk “Break Da Line” dalam sebuah sesi dengar terbuka yang digelar Minggu, 1 Juni 2025, di Beka Kopi.
Acara tersebut dihadiri komunitas musik, pegiat seni, hingga media, dan menjadi momentum pengenalan arah baru band yang dikenal garang ini.
Dirilis secara global pada 6 Juni 2025, “Break Da Line” menghadirkan sembilan lagu yang memuat banyak kejutan sonik. Shinigami tak ragu meramu unsur j-pop, metal, rock n’ roll, bahkan musik tradisional dalam satu paket album yang tetap berakar kuat di akar hardcore.
“Album ini lahir dari rasa jenuh pada formula lama. Kami ingin meledakkan batas,” ungkap vokalis Tobil dalam bincang santai usai sesi dengar.
“Kami tetap hardcore, tapi membiarkan diri bermain jauh,” sambungnya.

Eksperimen genre dalam album ini bukan sekadar gimmick. Trek “99% Mataram Shit” menyatukan riff keras dengan irama musik tradisional Sasak lewat kolaborasi dengan kelompok fiktif Cilokaq Gambrah, sementara “Pesona Tangan Besi” menampilkan orasi sastra dari penyair muda Gilang Sakti Ramadhan. Hasilnya, lanskap bunyi yang liar namun tetap berpijak pada semangat perlawanan khas Shinigami.
Andhika, sang gitaris, menegaskan bahwa ragam referensi tiap personel menjadi bahan bakar utama eksplorasi ini. “Tobil dengerin k-pop, Tatak suka grunge, saya dan Ijank masih di punk dan hardcore. Itu semua ngalir aja,” katanya.
Meski musikalitasnya kian luas, energi keras Shinigami tak mengendur. Lagu pembuka “S.O.S” menyuguhkan sirene dan beat panik, sementara “Burning Sparkle” dan “Pesona Tangan Besi” menyusupkan gitar clean dan akustik yang jarang terdengar di karya-karya mereka sebelumnya.
Secara lirik, Shinigami tetap konsisten menyuarakan penolakan terhadap sistem yang menindas. Nuansa nu metal dan hip-hop 90-an terasa dalam gaya bertutur dan beat lagu-lagunya. Referensi seperti Limp Bizkit, Rage Against the Machine, Wu-Tang Clan, hingga Beastie Boys disebutkan sebagai inspirasi utama.
“Hardcore bukan cuma distorsi atau teriak-teriak. Ini soal sikap. Kami tetap hardcore,” tegas Tatak, sang bassist.
Dengan semangat DIY yang masih menyala dan keberanian untuk menabrak pakem, Shinigami melalui “Break Da Line” mencoba mendefinisikan ulang arah musik keras lokal. Ini bukan sekadar album, melainkan pernyataan keras bahwa Mataram juga bisa bicara lantang dalam peta musik alternatif Indonesia, dengan bahasa sendiri yang liar, jujur, dan tak kompromi.








































