AI masuk Newsroom: Cepat bukan segalanya, akurasi tetap raja

Property of Lombokvibes.com
Property of Lombokvibes.com

Lombokvibes.com, Jakarta — Gelombang pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI) kian terasa di ruang redaksi media Indonesia. Dari penulisan berita hingga distribusi konten, teknologi ini mulai menjadi bagian dari alur kerja sehari-hari. Namun di tengah euforia efisiensi, para pelaku industri menegaskan satu garis tegas: AI tidak akan menggantikan jurnalis.

General Manager harapanrakyat.com, Subagja Humara, mengungkapkan bahwa redaksinya sempat mencoba berbagai platform AI. Hasilnya tidak selalu sesuai harapan. “Percuma cepat, tapi tidak ada distribusi,” ujarnya dalam kegiatan Showcasing Google AI Tools di Jakarta.

Ia menjelaskan, kendala yang dihadapi bukan hanya pada kualitas konten, tetapi juga performa distribusi seperti SEO, ilustrasi, hingga video yang tidak selaras dengan algoritma platform digital. Pengalaman itu sempat membuat tim kembali ke metode manual.

Namun titik balik terjadi setelah mengikuti pelatihan dari Google. Kini, AI dimanfaatkan secara lebih strategis, tidak hanya di meja redaksi tetapi juga oleh reporter di lapangan. Fokusnya bergeser, bukan sekadar kecepatan produksi, melainkan bagaimana konten bisa relevan dengan algoritma distribusi di platform seperti Google, TikTok, dan Instagram.

Pendekatan berbeda diambil Kalesang.id. Sejak awal, media ini menggunakan AI secara terbatas, hanya untuk verifikasi dan pengecekan typo. Media Director Kalesang.id, Wendi Wambes, mengatakan perubahan signifikan terjadi setelah mengenal tools seperti Google NotebookLM dan Google Pinpoint.

Menurutnya, kedua alat tersebut sangat membantu dalam mengolah data untuk kebutuhan liputan mendalam. Meski begitu, ia menegaskan batas yang tidak bisa dilanggar. “AI bukan pengganti jurnalis. Kerja lapangan tetap tidak tergantikan,” katanya.

Di Kalesang, AI justru diposisikan sebagai alat untuk membebaskan jurnalis dari pekerjaan administratif. Dengan begitu, wartawan dapat lebih fokus pada peliputan dan verifikasi langsung di lapangan.

Sementara itu, Langgam.id di Sumatra Barat melihat AI sebagai solusi atas keterbatasan sumber daya manusia. Manager Langgam.id, Mukhtar Syafi’i, menyebut dorongan penggunaan AI berangkat dari kebutuhan menghadirkan liputan mendalam dan konten multimedia dengan tim yang terbatas.

Sebelum menggunakan AI, proses produksi seperti transkrip, dubbing, hingga penulisan skrip media sosial dilakukan secara manual dan memakan waktu panjang. Kini, berbagai tools AI membantu mempercepat alur kerja, termasuk produksi podcast dan video.

Meski demikian, Mukhtar menegaskan bahwa standar jurnalistik tetap dijaga ketat. “Dalam prosesnya tidak langsung diunggah. Tetap dengan proses jurnalisme,” ujarnya.

Setiap konten yang dihasilkan AI tetap melalui proses penyuntingan dan verifikasi oleh editor. Bahkan, Langgam.id mulai menyusun standar operasional prosedur (SOP) penggunaan AI di redaksi, termasuk pelatihan internal untuk memastikan jurnalis memahami cara kerja dan batasannya.

Risiko “halusinasi” AI juga menjadi perhatian. Namun Mukhtar menilai risiko tersebut bisa ditekan dengan penggunaan data berbasis hasil liputan lapangan.

Benang merah dari ketiga media ini jelas: AI adalah asisten, bukan pengganti. Teknologi mempercepat kerja dan merapikan proses, tetapi akurasi dan verifikasi tetap berada di tangan manusia.

Pandangan serupa disampaikan Wakil Ketua Asosiasi Media Siber Indonesia Pusat, Citra Dyah Prastuti. Ia menekankan bahwa AI seharusnya diperlakukan sebagai “asisten intern” di newsroom. “Dalam pekerjaan newsroom, manusianya tetap harus terlibat,” ujarnya.

Ia juga menyebutkan, sebanyak 40 media telah mengikuti program fellowship sebagai bagian dari transformasi industri agar tetap relevan di tengah disrupsi teknologi.

Dari sisi teknologi, komitmen juga datang dari Google. Google News Partner Manager, Yos Kusuma, menegaskan bahwa inovasi AI ditujukan untuk memperkuat jurnalisme, bukan menggantikannya. “Tujuan utama kami adalah membantu jurnalis dan profesional media,” katanya.

Kolaborasi antara Google, Dewan Pers, dan AMSI disebut menjadi bagian dari upaya mendorong ekosistem media yang lebih adaptif dan berkelanjutan.

Sementara itu, Ketua Komisi Digital Dewan Pers, Dahlan Dahi, mengingatkan pentingnya menjaga esensi jurnalisme di tengah arus teknologi. Ia menegaskan bahwa pers memiliki fungsi vital sebagai kontrol sosial. “Tanpa pers, tidak ada kontrol sosial dan tidak ada mekanisme koreksi dalam masyarakat,” ujarnya.

Sebagai bagian dari transformasi ini, AMSI telah menggelar pelatihan Google AI Tools pada Oktober 2025, yang dilanjutkan dengan program fellowship hingga Januari 2026. Hasil dari program tersebut menunjukkan bahwa pemanfaatan AI mampu meningkatkan efisiensi tanpa mengorbankan kualitas, selama tetap berada dalam koridor jurnalistik.

Di tengah percepatan digitalisasi, masa depan newsroom memang akan semakin bergantung pada teknologi. Namun satu hal tetap tidak berubah: kredibilitas berita tetap ditentukan oleh manusia yang mengerjakannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!