Tenaga kerja Lombok Utara di Gili masih didominasi non-skill, Disnaker genjot peningkatan kompetensi lewat BLK

Property of Lombokvibes.com
Property of Lombokvibes.com

Lombokvibes.com, Lombok Utara — Sektor pariwisata di Tiga Gili terus menjadi magnet utama bagi tenaga kerja asal Lombok Utara. Namun tingginya serapan tenaga kerja itu masih dibayangi tantangan besar, mayoritas pekerja lokal yang bekerja di Gili Trawangan, Gili Air, dan Gili Meno berada pada kategori non-skill.

Berdasarkan analisis tenaga kerja pra-Covid-19, tercatat sebanyak 13.003 pekerja yang menjadi baseline sebelum pandemi. Sejak itu, jumlah tenaga kerja di kawasan Gili meningkat dari tahun ke tahun.

Data menunjukkan, pada 2020 terjadi penambahan 418 pekerja sehingga total menjadi 13.421 orang. Peningkatan terus berlanjut selama empat tahun berikutnya, masing-masing 551 pekerja di 2021, 580 pekerja di 2022, 837 pekerja di 2023, dan 1.056 pekerja pada 2024. Puncaknya, tahun 2025 mencatat lonjakan besar dengan tambahan 2.409 pekerja, sehingga total akumulasi tenaga kerja mencapai 18.854 orang atau meningkat lebih dari 114 persen dibanding baseline pra-pandemi.

Kepala Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu dan Tenaga Kerja (DPMPTSP-Naker) Kabupaten Lombok Utara, Evi Winarni M.Si, mengungkapkan bahwa kebutuhan lapangan kerja di Gili sebenarnya sangat besar, namun belum diimbangi dengan kualitas sumber daya manusia.

“Serapan tenaga kerja di Gili itu tinggi sekali, tapi yang banyak terisi justru pekerjaan non-skill seperti tukang kebun dan pekerjaan dasar lainnya. Ini menjadi tantangan besar bagi kami,” ujarnya, kemarin (22/11/2025).

Menurutnya, tren eksklusif tourism yang berkembang di Gili mengharuskan tenaga kerja memiliki standar kompetensi yang lebih tinggi. Karena itu, Disnaker mendorong pembenahan SDM melalui Balai Latihan Kerja (BLK).

“Saat ini kami memulai dari soft skill terlebih dahulu. Banyak keluhan dari pelaku wisata soal kedisiplinan dan rasa tanggung jawab pekerja. Jadi pembentukannya harus dari fondasi itu dulu sebelum masuk peningkatan skill teknis,” jelas Evi.

Selain soft skill, Disnaker menyiapkan berbagai pelatihan teknis seperti keterampilan bahasa asing, housekeeping, barista, hingga barbershop. BLK juga telah menjalin kerja sama eksklusif dengan sejumlah hotel untuk menyerap langsung lulusan pelatihan.

Evi juga menyebut job fair sebagai salah satu cara paling efektif mempertemukan kebutuhan sektor pariwisata dengan pencari kerja lokal.

“Kami ingin memastikan pekerja Lombok Utara bisa bersaing, naik kelas, dan tidak hanya masuk sektor kerja kasar. Potensinya besar, tapi harus digenjot dengan kompetensi,” tegasnya

Dengan strategi peningkatan kualitas tenaga kerja ini, pemerintah daerah berharap masyarakat lokal bisa mendapatkan posisi kerja yang lebih layak dan menguntungkan di sektor pariwisata Gili yang terus berkembang.

< a title=" milad bima 2025" target="_blank">

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *