Lombokvibes.com, Mataram — Dalam upaya melestarikan bahasa daerah sebagai identitas budaya, Dewan Bini Majlis Adat Sasak (MAS) menggelar kegiatan Pembekalan Tata Bahasa Sasak dengan tema Peningkatan Penguasaan Bahasa Sasak di Kalangan Pengurus Dewan Bini Majlis Adat Sasak. Kegiatan ini menjadi salah satu langkah strategis untuk menghidupkan kembali bahasa Sasak di tengah masyarakat, khususnya melalui peran perempuan adat.
Ketua Dewan Bini MAS, Prof. Dr. Hj. Warni Djuwita, M.Pd., menegaskan pentingnya kemampuan berbahasa Sasak di kalangan pengurus dewan. Menurutnya, penguasaan bahasa daerah merupakan bagian tak terpisahkan dari tanggung jawab menjaga budaya.
“Bahasa Sasak adalah identitas yang melekat dalam diri masyarakat Lombok. Melalui pembekalan ini, para pengurus diharapkan menjadi teladan dalam pelestarian bahasa Sasak baik di lingkungan adat, keluarga, maupun masyarakat luas,” ujarnya dalam sambutan pembukaan kegiatan.
Acara dibuka dengan pembacaan do’a dalam bahasa Sasak oleh Raden Rais, memberikan nuansa sakral sekaligus memperkuat makna pelestarian budaya lokal.
Hadir dalam kegiatan ini, istri Sekretaris Daerah Provinsi NTB, Lale Prayatni, SH., MH., yang juga menjabat sebagai Pengraksr Agung MAS Bini. Ia menyampaikan dukungannya terhadap kegiatan ini sebagai bentuk penguatan peran perempuan dalam menjaga nilai-nilai adat dan budaya Sasak.
Pengrakse Agung Majlis Adat Sasak, L. Sajim Sastrawan, S.H., M.H., dalam sambutannya mengingatkan bahwa bahasa daerah adalah bagian penting dari jati diri masyarakat.
“Bahasa adalah napas budaya. Jika bahasa hilang, maka budaya pun akan menghilang. Oleh karena itu generasi muda harus dibiasakan bangga berbahasa Sasak,” tegasnya.
Pada sesi materi, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTB, L. Abdurahim, memaparkan konsep Linggih Bahasa dan tiga pilar utama adat Sasak, yaitu Adat Kerame, Adat Tafsile, dan Adat Game. Ia menyoroti pentingnya pemahaman adat sejak dari lingkungan keluarga.
“Adat Tafsile seringkali dilanggar karena kurangnya pemahaman di tingkat keluarga. Padahal dari sinilah pondasi adat dan budaya itu dimulai,” jelasnya.
Melalui kegiatan ini, Dewan Bini MAS berharap mampu mencetak kader-kader perempuan adat yang tidak hanya fasih berbahasa Sasak, tetapi juga menjadi motor penggerak dalam pelestarian bahasa dan budaya di tengah arus globalisasi yang kian kuat.




























