Lombokvibes.com, Mataram- Dalam buku Manusia dan Gunung, Pepep DW tidak sekadar menulis tentang bentang alam yang menjulang di cakrawala. Ia menyulam narasi gunung sebagai entitas spiritual, historis, dan ekologis yang menyatu dengan kehidupan manusia—terutama dalam lanskap Sunda, lebih spesifik lagi Bandung Raya.
Mengawali buku dengan prolog reflektif, Pepep menawarkan cara pandang antroposentris yang berbalik arah: bukan manusia yang menjadi pusat, melainkan bagaimana gunung membentuk peradaban, karakter, dan spiritualitas manusia. Gunung di sini bukan objek wisata atau sekadar bentang geologi, melainkan guru agung—Guru nu Agung, Guru nu Luhung—yang menyimpan kearifan dan mengajarkan keseimbangan.
Salah satu kekuatan utama buku ini adalah kedalaman bahasan tentang “teologi gunung”. Dalam 60 ayat Al-Qur’an yang dikutip dan dianalisis, Pepep menempatkan gunung bukan sekadar latar, melainkan aktor spiritual yang aktif: gunung sujud, berdzikir, dan menjadi saksi sejarah manusia. Tafsir terhadap kisah Nabi Muhammad SAW di Gua Hira, kisah Gunung Uhud yang “mencintai manusia”, hingga simbol gunungan dalam wayang yang dihidupkan oleh Sunan Kalijaga, memperlihatkan narasi lintas agama, budaya, dan zaman. Artinya Pepep DW melihat antara Teologi dan Ekologi.
Pepep juga menggugat perilaku eksploitatif manusia terhadap gunung dan hutan. Ia tidak ragu mengkritik para pendaki yang serampangan, kebijakan pemerintah yang lalai, hingga invasi kapital yang membongkar sakralitas lereng dan puncak. Kampanye #SaveCiharus dan #SadarKawasan menjadi contoh nyata bagaimana refleksi intelektual bisa bermuara pada aksi nyata.
Selain teolog dan aktivis, Pepep adalah seniman. Buku ini tak hanya padat literatur dari sumber klasik hingga ilmiah modern, tetapi juga menyelipkan puisi dan metafora yang membuat pembaca merasakan spiritualitas gunung bukan hanya lewat nalar, tapi juga rasa. Puisi-puisi dari M. Seftia, Jazuli Imam, dan M. Rizaldi menjadi jeda reflektif yang menenangkan sekaligus menggugah.
Meski judulnya general, Manusia dan Gunung sebenarnya berfokus pada kawasan Bandung dan sekitarnya. Lebih dari 700 gunung dikupas dalam segmen-segmen pendek, menjadikan buku ini semacam atlas spiritual dan kultural kawasan Priangan. Dari Gunung Rakutak hingga Gunung Padang, dari jejak Bujangga Manik hingga kisah Kartosoewirjo di Lembah Handeuleum, pembaca diajak menelusuri jejak sejarah yang sering kali terlupakan.
Buku ini adalah seruan. Seruan untuk kembali mengenali relasi manusia dan gunung sebagai relasi antar-makhluk. Pepep tidak menyuguhkan solusi instan, tetapi menawarkan jalan sunyi: memahami gunung sebagai refleksi diri, mendaki untuk menemukan makna, dan pulang dengan kesadaran ekologis yang baru.
Bagi pembaca umum, buku ini bisa jadi terasa padat dan filosofis. Namun bagi para pemerhati budaya, pegiat lingkungan, pencinta sejarah, atau siapa saja yang pernah menatap puncak gunung dengan rasa takzim—Manusia dan Gunung adalah karya yang layak direnungkan.
“Mendaki ketinggian pengetahuan gunung, menyelami kedalaman kebijaksanaan manusia.”
Informasi mengenai buku
Judul Buku: Manusia dan Gunung
Penulis: Pepep DW
Penerbit: Djeladjah Pustaka
Tebal: xvi + 234 halaman
ISBN: 978-602-51833-0-0
































