Penulis: Akmal
Lombokvibes.com, Mataram– Di tengah derasnya arus globalisasi, buku Kosmologi Sasak: Risalah Inen Paer, karya H. L. Agus Faturrahman hadir sebagai penanda penting bahwa kearifan lokal masih menjadi jangkar identitas masyarakat. Diterbitkan oleh Genius pada tahun 2017, buku setebal hampir 300 halaman ini bukan hanya kumpulan catatan budaya, melainkan risalah perjalanan intelektual sekaligus spiritual yang mencoba memetakan bagaimana orang Sasak memandang dunia, kehidupan, dan masa depan.
Agus Faturrahman membagi bukunya ke dalam enam bab. Ia memulainya dengan membaca lanskap Lombok sebagai ruang kosmologis. Gunung, laut, pemukiman, dan aliran sungai tidak dipahami sekadar sebagai bentang alam, tetapi sebagai ruang penuh simbol yang membentuk cara hidup masyarakat. Bab kedua menelusuri “elesan” atau jejak budaya yang masih tertinggal: mitos, situs, dan tradisi yang diwariskan turun-temurun. Dari sana pembaca diajak memahami siapa manusia Sasak dalam bab ketiga—asal-usul, identitas, dan bagaimana manusia berelasi dengan lingkungannya.
Bagian keempat memaparkan ritual kehidupan, dari kelahiran hingga kematian, yang memperlihatkan bagaimana setiap peristiwa manusia dipayungi nilai spiritual. Sementara bab kelima mengupas tentang amanat: bagaimana manusia Sasak memaknai tanggung jawab, kerja, dan spiritualitas. Penutupnya, bab keenam, membawa pembaca pada renungan tentang masa depan dan bagaimana kosmologi tradisi masih bisa menjadi kompas moral dalam menghadapi dunia modern.
Kekuatan utama buku ini adalah kemampuannya memadukan berbagai sumber: mitologi, cerita rakyat, lanskap alam, hingga praktik ritual. Agus menulis bukan hanya dengan kepala seorang akademisi, tetapi juga dengan hati seorang anak Sasak yang ingin merawat warisan leluhur.
Bahasa yang digunakan cukup ringan, sehingga mudah diakses oleh pembaca umum. Ia tidak terjebak pada jargon akademis yang kaku, melainkan memilih gaya tutur yang mengalir, mirip seperti mendengarkan dongeng di berugaq. Hal ini membuat “Risalah Inen Paer” bisa menjangkau pembaca lintas kalangan, dari mahasiswa, pegiat budaya, hingga masyarakat umum yang ingin mengenal Lombok lebih dekat.
Namun, sebagai karya budaya, buku ini tidak lepas dari keterbatasan. Beberapa pembahasan lebih bersifat naratif-reflektif ketimbang analitis. Kritik mungkin muncul pada minimnya penjelasan metodologis atau verifikasi historis yang ketat. Di sisi lain, pendekatan ini justru membuat buku lebih komunikatif dan menekankan pada nilai kultural ketimbang sekadar data akademis.
Lebih dari sekadar resensi budaya. Kosmologi Sasak: Risalah Inen Paer punya makna penting bagi masyarakat Lombok. Ia hadir sebagai pengingat bahwa identitas Sasak bukan hanya terletak pada bahasa atau adat semata, melainkan pada kosmologi: cara berpikir tentang dunia, manusia, dan hubungan dengan Yang Maha Kuasa.
Buku ini menjadi jembatan generasi muda untuk memahami akar tradisi mereka. Di tengah gempuran modernisasi dan pariwisata, risalah ini menunjukkan bahwa budaya Sasak memiliki sistem nilai dan kosmologi yang kaya, yang bisa menjadi pegangan moral sekaligus sumber inspirasi dalam membangun masa depan.
Membaca buku ini ibarat bercermin. Kita diajak menengok ke belakang, menelusuri jejak leluhur, lalu memandang masa depan dengan pijakan yang lebih kokoh. Risalah Inen Paer bukan hanya tentang masyarakat Sasak, tetapi juga tentang bagaimana sebuah komunitas menjaga hubungan dengan ruang, waktu, dan Sang Pencipta. Dengan begitu, buku ini tidak hanya penting bagi orang Sasak, melainkan juga bagi siapa saja yang peduli pada kebudayaan Nusantara. Ia mengingatkan kita bahwa setiap daerah memiliki kosmologinya sendiri, yang jika dirawat dapat menjadi sumber kekuatan dalam menghadapi perubahan zaman.
Kosmologi Sasak: Risalah Inen Paer adalah undangan untuk kembali pulang—pulang ke akar, pulang ke diri, pulang ke kebijaksanaan leluhur yang tak lekang oleh waktu.
Informasi Buku
Judul Buku : Kosmologi Sasak: Risalah Inen Paer
Penulis : H. L. Agus Faturahman (Lahir 1957, Asli Sasak)
Penerbit : Genius, Cetakan pertama, Juli 2017
Tebal : xxv + 313
Genre/kategore : esai Kebudayaan, antropologi/kosmologo lokal sasak, kajian budaya dan sejarah lokal































