Review  

Salah satu buku yang wajib dibaca: “Re: dan peRempuan”, dari luka menjadi daya

Property of Lombokvibes.com
Property of Lombokvibes.com

Lombokvibes.com, Mataram- Dalam Re: dan peRempuan, Maman Suherman kembali memperlihatkan kepiawaiannya meramu realitas sosial menjadi narasi yang menggugah dan penuh empati. Buku ini tidak hanya menghadirkan kisah-kisah perempuan sebagai objek penderita, tetapi menyuarakan pengalaman mereka sebagai bentuk perlawanan terhadap kekerasan, ketidakadilan, dan kebungkaman yang selama ini membelenggu.

Maman tidak mengklaim diri sebagai juru bicara perempuan. Ia memilih menjadi penyambung suara mereka—mereka yang selama ini tenggelam dalam senyap, tidak terdengar, dan kerap diabaikan. 

Dengan gaya penulisan yang reflektif dan mengalir, ia menyusun kisah nyata tentang perempuan korban kekerasan seksual, kekerasan dalam rumah tangga, hingga ketidakadilan struktural yang menjelma dalam bentuk hukum yang timpang dan budaya patriarki yang menindas.

Setiap kisah dalam buku ini adalah potret luka yang dituturkan dengan kepekaan nurani. Kisah seorang perempuan korban incest yang justru dikucilkan oleh keluarganya sendiri menjadi contoh getir betapa perempuan kerap kali harus memperjuangkan kepercayaan bahkan untuk kebenaran yang paling nyata. Buku ini bukan hanya mengajak pembaca untuk membaca, tetapi untuk ikut merasakan perih dan perlawanan yang mereka alami.

Namun, buku ini tidak semata menyuguhkan kisah kelam. Ada juga semangat yang membakar. Perempuan-perempuan yang bangkit dari trauma, mendidik anak-anak mereka seorang diri, menjadi aktivis yang mengadvokasi korban lain—mereka hadir sebagai simbol keteguhan. 

Maman menuliskannya dengan bahasa yang puitis, menyentuh, dan penuh penghargaan atas keberanian mereka.

Nilai lebih dari Re: dan peRempuan terletak pada keberanian penulis mengungkap kegagalan sistem—baik hukum maupun budaya—dalam melindungi perempuan. 

Dari proses hukum yang mandek hingga opini publik yang cenderung menyalahkan korban, buku ini menjadi kritik sosial yang tajam, namun tetap berpijak pada empati.

Gaya penulisan Maman tetap konsisten: lembut namun kuat, penuh kutipan yang menggugah dan menyentuh sisi kemanusiaan pembaca. Ia tidak memaksa pembaca untuk setuju, tapi mengajak untuk merenung dan menimbang ulang posisi kita terhadap ketidakadilan yang terjadi di sekitar.

Re: dan peRempuan adalah bacaan penting. Ia bukan hanya sekadar buku, tapi juga ajakan untuk bersikap: lebih peduli, lebih sadar, dan lebih berpihak pada keadilan. Buku ini layak dibaca oleh siapa saja—aktivis, pendidik, pembuat kebijakan, hingga masyarakat umum yang ingin memahami kompleksitas persoalan perempuan di Indonesia.

Melalui kisah-kisah yang menyayat dan memeluk di saat bersamaan, buku ini menghidupkan kembali harapan dan martabat perempuan lewat kekuatan cerita. Ia adalah bentuk jurnalisme sastrawi yang bekerja bukan hanya untuk mengabarkan, tetapi untuk menggugah hati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!