Lombokvibes.com, Lombok Tengah — Desa Adat Sade di Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), selama bertahun-tahun menjadi salah satu ikon wisata budaya Lombok.
Kampung adat yang dihuni masyarakat Suku Sasak ini bukan sekadar destinasi wisata. Sade menjadi ruang hidup tempat tradisi, arsitektur, kerajinan, hingga kehidupan sehari-hari masyarakat Sasak terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Namun, wajah Sade kini berubah setelah kebakaran besar melanda kawasan tersebut pada Sabtu (22/8/2026) malam. Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah menyebut 89 bangunan ludes terbakar dan sejumlah bangunan lainnya mengalami kerusakan. Sebanyak 320 jiwa dari 120 kepala keluarga terdampak.
Di balik musibah tersebut, Sade tetap menyimpan cerita panjang tentang bagaimana masyarakat Sasak menjaga identitas budaya mereka.
Rumah Adat Sade yang Punya Ciri Khas
Salah satu hal yang paling mudah dikenali dari Sade adalah bentuk rumah tradisionalnya.
Rumah-rumah adat Sasak di kawasan ini umumnya menggunakan material alami seperti kayu, bambu, anyaman bambu dan atap alang-alang. Bentuk bangunannya dibuat sederhana, tetapi memiliki filosofi dan fungsi yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat setempat.
Material tradisional tersebut pula yang selama ini memberikan karakter khas pada kawasan Sade. Namun, material yang mudah terbakar juga membuat api dalam kebakaran Sabtu malam lalu dapat merambat dengan cepat.
Lantai Rumah Dipoles Menggunakan Kotoran Kerbau
Salah satu tradisi Sade yang sering membuat wisatawan penasaran adalah cara masyarakat merawat lantai rumah.
Lantai rumah tradisional di Sade secara turun-temurun dipoles menggunakan kotoran kerbau. Bagi masyarakat setempat, cara tersebut merupakan bagian dari tradisi dan dipercaya membantu menjaga lantai tetap kuat serta mengurangi debu dan serangga.
Tradisi ini menjadi salah satu contoh bagaimana masyarakat Sasak memanfaatkan bahan-bahan yang tersedia di lingkungan sekitar untuk kebutuhan kehidupan sehari-hari.
Perempuan Sade dan Tradisi Menenun
Keunikan Sade tidak berhenti pada rumah adat.
Tradisi menenun juga menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat. Keterampilan membuat kain secara turun-temurun menjadi salah satu identitas perempuan Sasak di kawasan tersebut.
Wisatawan yang berkunjung ke Sade sebelum kebakaran dapat melihat aktivitas masyarakat membuat kain tenun sekaligus membeli berbagai produk kerajinan sebagai buah tangan.
Tradisi menenun inilah yang membuat Sade tidak hanya dikenal sebagai kawasan rumah adat, tetapi juga sebagai salah satu ruang penting untuk mengenal kebudayaan Sasak.
Bukan Sekadar Tempat Wisata
Bagi wisatawan, Sade mungkin terlihat seperti kampung tradisional yang unik. Namun bagi masyarakat yang tinggal di dalamnya, kawasan tersebut merupakan rumah dan ruang kehidupan.
Di sana terdapat rumah tinggal, tempat berkegiatan, ruang berkumpul serta fasilitas yang digunakan masyarakat.
Sade dan Tantangan Menjaga Warisan Budaya
Kebakaran Sade menjadi pengingat bahwa pelestarian budaya harus berjalan bersama dengan aspek keselamatan.
Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif NTB menyebut musibah tersebut menjadi momentum untuk memperkuat kesiapsiagaan dan mitigasi bencana di destinasi wisata budaya, tanpa menghilangkan nilai autentik dari warisan budaya masyarakat Sasak.
Ke depan, pembangunan kembali Sade bukan hanya soal mendirikan rumah-rumah baru.
Ada tantangan yang jauh lebih besar: bagaimana mempertahankan bentuk, nilai, tradisi dan identitas Sade sekaligus membuat kawasan tersebut lebih aman bagi masyarakat dan wisatawan.
Sebab Sade bukan hanya kumpulan rumah beratap alang-alang.
Sade adalah cerita tentang masyarakat Sasak, tentang tradisi yang diwariskan, tentang rumah yang menjadi ruang kehidupan, dan tentang identitas budaya Lombok yang perlu terus dijaga.
Meski sebagian wajahnya kini berubah akibat kebakaran, nilai budaya yang hidup di dalam masyarakat Sade diharapkan tetap menjadi bagian penting dari perjalanan Lombok ke depan.




























