Lombokvibes.com, Lombok Utara – Festival Malaka ke-4 yang digelar di Pantai Pandanan, Desa Malaka, Kecamatan Pemenang, menjadi salah satu rangkaian perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia dan HUT Kabupaten Lombok Utara (KLU). Kegiatan yang berlangsung meriah pada Sabtu (15/8) itu dihadiri langsung oleh Bupati Lombok Utara Dr. H. Najmul Akhyar, S.H., M.H.
Festival tersebut dibuka oleh Gubernur NTB yang diwakili Kepala Dinas Kebudayaan NTB, Muhamad Ihwan, S.Sos., M.Si. Turut hadir Ketua TP PKK KLU Hj. Rohani Najmul Akhyar, unsur Forkopimda, Camat Pemenang Suhadman, Ketua AKAD Budiawan, SH, serta berbagai tokoh masyarakat dan pemuda setempat.
Dalam sambutannya, Kepala Dinas Kebudayaan NTB Muhamad Ihwan menekankan pentingnya menjaga arah pembangunan daerah tanpa kehilangan identitas budaya. Ia mengibaratkan perjalanan bangsa seperti sebuah pelayaran.
“Angin tidak selalu bisa kita atur, tetapi arah layar bisa kita tentukan. Jika dahulu para pahlawan berjuang mengusir penjajah, maka tugas generasi saat ini adalah mengurangi kemiskinan, pengangguran, meningkatkan kualitas pendidikan, serta menjaga lingkungan dan tradisi,” ujarnya.
Ihwan juga mengapresiasi komitmen Pemerintah Kabupaten Lombok Utara dalam menjadikan daerah tersebut sebagai kawasan strategis pengembangan kebudayaan di NTB. Menurutnya, Lombok Utara bersama Bayan, Rinjani, dan Kota Tua Ampenan menjadi pilar utama pengembangan kebudayaan di wilayah barat NTB.
Sementara itu, Bupati Lombok Utara Najmul Akhyar menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Desa Malaka dan seluruh panitia yang konsisten menyelenggarakan Festival Malaka selama empat tahun berturut-turut.
Menurut Najmul, festival ini bukan sekadar perlombaan perahu layar tradisional, tetapi menjadi bentuk nyata pelestarian budaya bahari sekaligus strategi promosi wisata yang efektif.
“Desa Malaka bukan sekadar penunjang pariwisata Gili, tetapi adalah desa wisata itu sendiri. Saya menyaksikan bagaimana aktivitas masyarakatnya begitu dekat dengan pantai. Ini adalah contoh kreativitas yang perlu ditiru desa-desa lain,” kata Najmul.
Ia menilai kegiatan pemerintahan dan event budaya yang digelar langsung di kawasan wisata mampu menjadi sarana promosi destinasi secara alami sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat setempat.
Najmul juga mengajak seluruh kepala desa di Lombok Utara untuk menjadikan Festival Malaka sebagai contoh pengembangan desa wisata berbasis budaya dan kearifan lokal.
“Apa yang dilakukan Malaka hari ini adalah teladan yang sangat baik. Semoga kegiatan serupa bisa tumbuh di berbagai wilayah Lombok Utara,” tambahnya.
Kepala Desa Malaka, H. Akmaludin Ichwan, menjelaskan bahwa Festival Lomba Perahu Layar telah menjadi agenda tahunan yang bertujuan melestarikan budaya bahari sekaligus memperkenalkan potensi wisata Desa Malaka kepada wisatawan.
“Tujuan kami adalah melestarikan budaya bahari dan memperkenalkan Desa Malaka sebagai bagian penting dari destinasi wisata Lombok Utara,” ujarnya.
Selain menampilkan perlombaan perahu layar tradisional, festival ini juga menjadi simbol ketahanan budaya masyarakat pesisir yang terus menjaga warisan leluhur di tengah perkembangan sektor pariwisata.
Ketua Panitia Festival Malaka, Muhammad Abid Al-Jabiri Adnan, menyebut festival tersebut juga menjadi wadah bagi generasi muda untuk berkontribusi dalam pembangunan desa dan daerah.
Ia bahkan memanfaatkan momentum festival untuk menyampaikan aspirasi terkait rencana pemekaran Desa Malaka. Dengan jumlah penduduk yang telah melampaui 10 ribu jiwa, menurutnya desa tersebut sudah memenuhi syarat administratif dan demografis untuk dimekarkan guna meningkatkan pelayanan publik.
Melalui kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, akademisi, dan pelaku pariwisata, Festival Malaka diharapkan terus berkembang menjadi ikon wisata bahari Lombok Utara yang mampu menjaga tradisi sekaligus mendorong pembangunan berkelanjutan.




























