Lombokvibes.com, Lombok Utara – Desakan pembentukan posko terpadu di kawasan wisata Tiga Gili, Kabupaten Lombok Utara, kembali mencuat setelah insiden meninggalnya wisatawan saat berenang di perairan Gili. Pelaku pariwisata menilai pemerintah perlu bertindak lebih cepat dan antisipatif demi keselamatan pengunjung yang terus meningkat, terutama di musim liburan.
Ketua Gili Hotel Association, Lalu Kusnawan, menyatakan bahwa insiden serupa terjadi hampir setiap tahun. Menurutnya, mayoritas kasus melibatkan wisatawan yang mengalami kelelahan ekstrem atau memiliki riwayat penyakit jantung.
“Ini sudah kami suarakan berulang kali. Diperlukan langkah antisipatif, bukan sekadar responsif,” ujar Kusnawan, Minggu (27/7/2025).
Ia menegaskan, pentingnya kehadiran posko terpadu yang melibatkan kepolisian, tim SAR, dan tenaga medis, khususnya selama musim kunjungan tinggi pada Juli hingga Agustus. Selama periode tersebut, jumlah wisatawan di kawasan Tiga Gili bisa mencapai 3.000 hingga 4.000 orang per hari.
“Pariwisata adalah andalan NTB. Maka, saat kunjungan tinggi, keamanan dan respons darurat harus maksimal. Jangan tunggu ada korban dulu baru bergerak,” tambahnya.
Kusnawan mengusulkan agar posko terpadu tersebut didirikan langsung di kawasan Tiga Gili, atau minimal di Pelabuhan Bangsal, sebagai pusat koordinasi cepat jika terjadi situasi darurat.
Usulan ini diharapkan dapat segera direspons oleh pemerintah provinsi maupun kabupaten sebagai bagian dari komitmen menjaga citra Tiga Gili sebagai destinasi wisata internasional yang aman dan ramah wisatawan.
Kawasan Tiga Gili yang meliputi Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air dikenal luas sebagai primadona pariwisata di Nusa Tenggara Barat.
Namun, meningkatnya jumlah kunjungan perlu diimbangi dengan kesiapan infrastruktur pendukung, termasuk layanan darurat dan keselamatan.
Pihak pelaku industri pariwisata berharap adanya langkah konkret dalam waktu dekat sebagai bentuk keseriusan pemerintah dalam menjamin keamanan dan kenyamanan para wisatawan.
“Kami berharap posko ini segera dibuat, diaktifkan, sehingga hal-hal yang tidak kita inginkan tidak terjadi lagi” desak Kusnawan.

































