Lombokvibes.com, LOMBOK TIMUR — Bale Adat Limbungan di Desa Perigi, Kecamatan Suela, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), diperkenalkan kembali melalui tradisi merarik. Upaya ini dilakukan lewat kegiatan Lensa Budaya yang memadukan pertunjukan adat, lomba fotografi ponsel, dan promosi digital pada Minggu (25/10/2026).
Kegiatan bertajuk Lensa Budaya: Revitalisasi Rumah Adat Limbungan melalui Tradisi Merarik tersebut melibatkan pelajar, mahasiswa, dan masyarakat adat setempat. Lebih dari 200 orang hadir untuk menyaksikan rangkaian acara yang mengangkat potensi budaya Limbungan.
Penggagas kegiatan, Dr. Sri Agustina, M.Pd., mengatakan Bale Adat Limbungan masih belum banyak dikenal masyarakat luas maupun wisatawan yang berkunjung ke Lombok.
“Jadi, untuk memperkenalkan kembali rumah adat Limbungan, saya menggunakan budaya merarik melalui lomba fotografi dengan tujuan untuk melestarikan rumah adat Limbungan,” ungkapnya.
Menurut Sri Agustina, pengenalan Bale Adat Limbungan perlu melibatkan generasi muda agar warisan budaya tersebut semakin dikenal, baik di tingkat lokal, regional, maupun nasional.
Ia berharap meningkatnya popularitas kawasan adat itu dapat mendorong kunjungan wisatawan sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat setempat.
“Karena dengan banyaknya kunjungan wisatawan, kita tahu bahwa hal itu dapat meningkatkan pendapatan masyarakat desa, bahkan daerah kita,” tegasnya.
Merarik Diperkenalkan Lewat Pertunjukan Adat
Selain mempromosikan rumah adat, kegiatan ini menjadi ruang edukasi bagi generasi muda untuk memahami tradisi merarik dalam kebudayaan masyarakat Sasak.
Sri Agustina menilai tradisi tersebut masih kerap dipahami secara keliru, termasuk dikaitkan dengan praktik pernikahan usia dini.
“Sehingga saya memperkenalkan kembali budaya tradisi merarik ini guna menghilangkan stigma akan pernikahan usia dini karena tradisi merarik, khususnya di Limbungan,” jelasnya.
Dalam kegiatan tersebut, peserta diperkenalkan pada sejumlah tahapan tradisi merarik, mulai dari midang, nyelabar, maling atau mbait, merarik, nyongkolan, hingga bales lampak nae.
Pengenalan tahapan tersebut diharapkan membantu generasi muda memahami proses dan filosofi yang terkandung dalam tradisi masyarakat Sasak.
Melalui pertunjukan langsung, masyarakat juga memiliki ruang untuk mengenalkan kembali adat istiadat kepada generasi penerus dengan pendekatan yang lebih menarik dan mudah dipahami.
Fotografi Jadi Strategi Promosi Bale Adat Limbungan
Promosi Bale Adat Limbungan juga dilakukan melalui lomba fotografi menggunakan telepon seluler dengan total hadiah Rp1,5 juta.
Peserta ditantang mengabadikan momen kegiatan dan mengunggah hasil foto ke akun media sosial masing-masing. Jumlah tanda suka dan komentar menjadi salah satu unsur penilaian, sehingga karya peserta turut berfungsi sebagai media promosi digital.
Komunitas phonegraphy Lombok dilibatkan sebagai bagian dari dewan juri.
Sri Agustina berharap kegiatan tersebut dapat mendorong anak-anak muda Limbungan mengembangkan kreativitas dan kemampuan fotografi, sekaligus ikut memperkenalkan potensi budaya daerahnya.
“Anak-anak muda Limbungan harus terus mengasah kemampuan, lebih kreatif dan berkarya, khususnya melalui fotografi agar rumah adat ini semakin banyak yang tahu,” tutupnya.
Pemdes Perigi Dukung Pelestarian Tradisi
Sekretaris Desa Perigi, Moh. Ihsan Effendi, mengapresiasi pelaksanaan Lensa Budaya. Ia berharap kegiatan tersebut dapat meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai tradisi merarik sebagai warisan leluhur yang perlu dijaga.
“Dengan melihat pertunjukan proses merarik ini, semoga kita semua dapat melestarikan kembali budaya atau tradisi merarik sebagai warisan terdahulu kita. Karena setiap tahapannya ada makna dan filosofi yang baik,” ujarnya.
Ihsan menjelaskan, pelaksanaan tradisi merarik dapat berbeda antara satu desa dan desa lainnya. Namun, perbedaan tersebut tidak menghilangkan makna yang terkandung dalam tradisi masing-masing.
Ia juga menilai lomba fotografi dan keterlibatan kreator konten dapat menjadi sarana untuk memperluas pengenalan tradisi merarik kepada masyarakat.
Disebut Berpotensi Jadi Desa Adat Berikutnya yang Dikenal Wisatawan
Potensi Bale Adat Limbungan turut menarik perhatian peserta kegiatan, salah satunya Elsa Fitri Rahma. Ia menilai kawasan tersebut memiliki daya tarik dari sisi luas wilayah dan kehidupan masyarakat adatnya.
“Bale Adat Limbungan mirip dan bagus seperti Desa Adat Sade. Karena wilayahnya luas dan penduduknya lumayan ramai. Atau mungkin ini Desa Sade kedua, ya,” tuturnya sambil tersenyum.
Elsa berharap kegiatan tersebut menjadi langkah awal untuk meningkatkan kunjungan wisatawan ke Bale Adat Limbungan.
“Semoga setelah ini Bale Adat Limbungan ramai, banyak pengunjung dan melihat budaya Bale Adat khas Lombok,” tutupnya.
Melalui pertunjukan tradisi merarik dan pemanfaatan media sosial, Bale Adat Limbungan diharapkan semakin dikenal sebagai salah satu kawasan yang menyimpan kekayaan budaya masyarakat Sasak di Lombok Timur. Keterlibatan generasi muda menjadi salah satu kunci agar warisan budaya tersebut tetap dikenal dan dilestarikan.





























