Lombokvibes.com, Mataram — Upaya melindungi hutan kini memasuki babak baru dengan sentuhan teknologi digital. World Resources Institute (WRI) Indonesia bersama Kelompok Studi Lingkungan dan Pariwisata (KOSLATA) menggelar pelatihan pemanfaatan aplikasi pemantau hutan di Mataram, 30 September hingga 2 Oktober 2025.
Sekitar 35 peserta dari Jakarta, NTB, Bali, dan NTT hadir, terdiri dari organisasi masyarakat sipil hingga komunitas pengelola sumber daya alam. Pelatihan ini fokus memperkenalkan aplikasi Global Forest Watch (GFW), Forest Watcher, serta Nature-Based Solutions (NbS) Tool yang dirancang untuk memantau kondisi hutan berbasis data.
Direktur KOSLATA, Sulistiyono, menyebut pelatihan ini sebagai momentum memperkuat kapasitas lintas sektor dalam menghadapi tantangan deforestasi dan krisis iklim.
“Produk seperti GFW dan NbS Tool dapat dimanfaatkan untuk pemantauan hutan, pengambilan keputusan, serta penerapan solusi berbasis alam di berbagai wilayah,” ujarnya.
Selama tiga hari, peserta dilatih mengakses data peringatan dini deforestasi, melakukan pemantauan lapangan lewat gawai, hingga mengidentifikasi potensi solusi berbasis alam. Selain sesi teknis, forum ini juga menampilkan diskusi studi kasus dari berbagai daerah, mendorong integrasi data lintas wilayah agar bisa digunakan dalam kebijakan berbasis bukti.
Antusiasme peserta cukup tinggi. Rian dari WALHI NTB menilai aplikasi ini sangat membantu kerja advokasi. Sementara itu, Hari dari Serikat Hijau Indonesia (SHI NTB) menekankan pentingnya langkah konkret pascapelatihan.
“Perlu ada implementasi tindak lanjut, misalnya dengan melibatkan komunitas lokal dan pemerintah desa hingga lembaga terkait,” katanya.
Kegiatan ditutup dengan presentasi studi kasus peserta serta evaluasi program. Harapannya, teknologi digital tidak hanya menjadi sekadar aplikasi dalam layar, tetapi benar-benar menjadi alat nyata untuk menjaga hutan dan mengurangi laju deforestasi.








































