Ditargetkan jadi sektor unggulan, FGD UMKM Bambu Lombok Timur petakan 3 kendala pengembangan

Property of Lombokvibes.com
Property of Lombokvibes.com

Lombokvibes.com, Lombok Timur — Potensi besar tanaman bambu di Kecamatan Sikur, Lombok Timur, mulai dilirik sebagai peluang ekonomi baru. Meski selama ini dikenal sebagai kawasan penghasil bambu, pemanfaatannya masih belum maksimal, terutama oleh pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Untuk itu, Lombok Research Center (LRC) bersama sejumlah pemangku kepentingan menggelar Forum Diskusi Terpumpun atau Focus Group Discussion (FGD), Kamis (28/8/2025), guna mengidentifikasi tantangan sekaligus membuka jalan pengembangan ekosistem usaha bambu di daerah ini.

“UMKM adalah tulang punggung ekonomi daerah. Jika kita bisa mengembangkan sektor ini, maka kita bisa menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan masyarakat,” ujar Direktur LRC, Suherman.

Dalam forum tersebut, terungkap tiga tantangan utama yang selama ini membayangi pelaku UMKM bambu di Lombok Timur, yakni keterbatasan bahan baku terencana, akses pasar yang terbatas, dan kesulitan memperoleh permodalan. Meski bambu tumbuh subur di berbagai desa, pemanfaatan yang tidak terstruktur dikhawatirkan dapat mengganggu keberlanjutan jangka panjang.

Dari sisi pemasaran, produk berbahan bambu kerap dipandang sebagai barang seni yang segmentasinya sempit. 

Padahal, menurut Kabid Litbang Bappeda Lombok Timur, Lalu Ridho Arindi, bambu memiliki lebih dari 1.500 kegunaan, mulai dari tusuk sate hingga produk kebutuhan rumah tangga.

“Kalau diolah dengan cara yang tepat, bambu bisa menjadi bahan industri kecil yang menjangkau pasar luas,” jelasnya.

Sementara dari sisi permodalan, perwakilan BRI Cabang Selong, Lalu Hadika Atmaja menjelaskan, bahwa UMKM sebenarnya memiliki akses ke berbagai jenis Kredit Usaha Rakyat (KUR). Namun, sistem kelayakan kredit seperti SLIK OJK sering menjadi tantangan tersendiri bagi pelaku usaha.

Sementara itu, Peneliti LRC, Maharani, menambahkan bahwa pengembangan bambu tidak hanya berdampak pada sektor ekonomi, tetapi juga memberikan manfaat sosial dan lingkungan.

“Bambu sangat penting dalam kehidupan masyarakat, sekaligus punya kontribusi tinggi dalam konservasi dan mitigasi perubahan iklim,” ujarnya.

Dari hasil FGD ini diharapkan dapat menjadi panduan bagi pemerintah dalam menyusun program pembinaan dan pemberdayaan yang lebih terstruktur.

< a title=" milad bima 2025" target="_blank">

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *