Lombokvibes.com, Lombok Timur- Lombok Research Center (LRC) memulai inisiatif strategis untuk memperkuat ekonomi hijau di Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, dengan mengembangkan UMKM berbasis bambu.
Melalui program pemberdayaan yang menyasar potensi lokal, LRC mengusung visi menjadikan Kecamatan Sikur sebagai pusat kerajinan bambu yang berdaya saing dan berkelanjutan.
Program ini diawali dengan asesmen awal di 14 desa di Kecamatan Sikur. Tujuannya adalah memetakan potensi bambu, memahami kebutuhan masyarakat, serta menggali peluang kolaborasi dengan berbagai pihak. Langkah ini menjadi fondasi penting agar program yang dikembangkan benar-benar berangkat dari realitas lapangan.
“Lombok Timur punya potensi besar di sektor pertanian dan pariwisata. Banyak desa juga kaya akan sumber daya bambu. Inilah yang kami dorong untuk dikelola secara lebih produktif,” kata Muhammad Zaini, Koordinator Program LRC, Rabu (6/8/2025).
Menurut Zaini, bambu dipilih karena memiliki karakteristik yang mudah diakses, multifungsi, dan ramah lingkungan. Tidak hanya sebagai bahan baku kerajinan bernilai tambah, bambu juga berkontribusi dalam menjaga kualitas ekosistem dan mengurangi dampak perubahan iklim.
Partisipasi masyarakat disebut sebagai faktor kunci keberhasilan program ini. Sejak tahap awal, pendekatan partisipatif diterapkan agar setiap inisiatif yang dibangun sesuai dengan aspirasi warga dan memiliki keberlanjutan jangka panjang.
“Harapan kami, Kecamatan Sikur bisa menjadi sentra bambu yang bukan hanya menghasilkan produk, tapi juga membangun kesadaran akan pentingnya lingkungan dan identitas lokal,” ujarnya.
Inisiatif ini sejalan dengan sejumlah target Sustainable Development Goals (SDGs), seperti pengentasan kemiskinan, penciptaan pekerjaan layak, pertumbuhan ekonomi inklusif, serta konsumsi dan produksi yang berkelanjutan.
Dengan memanfaatkan kekayaan alam dan budaya lokal, LRC optimis program ini bisa menjadi katalisator perubahan ekonomi di desa-desa Lombok Timur.
“Ya kami optimis, kami berharap dengan program ini, masyarakat desa di Lombok Timur tidak hanya bisa menciptakan produk, tetapi juga bisq memperkuat ekosistem usaha yang berbasis pada nilai keberlanjutan dan kebanggaan lokal,” pungkasnya.




























