LRC & Aquabloom ubah sargassum Lombok Timur jadi pupuk organik, solusi baru untuk pertanian

Property of Lombokvibes.com
Property of Lombokvibes.com

Lombokvibes.com, Lombok Timur– Lombok Timur selangkah lebih maju. Kabupaten terbesar di Pulau Lombok ini tengah mempersiapkan diri sebagai pusat inovasi berbasis ekonomi biru melalui program Blue Initiative for Sustainable Action (BISA). 

Salah satu inisiatif utama yang tengah dikembangkan adalah pengolahan Sargassum, jenis rumput laut coklat yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal, diubah menjadi produk bernilai ekonomi dan ekologis.

Lombok Research Center (LRC), lembaga riset independen yang berfokus pada isu pesisir, pertanian, dan pemberdayaan masyarakat, menjadi mitra pelaksana dalam program ini bersama Aquabloom, startup yang bergerak di bidang bioteknologi kelautan.

Dalam kunjungan resmi pada Jumat, 11 Juli 2025, Kepala Bappeda NTB Iswandi bersama jajarannya meninjau langsung kesiapan program ini di Desa Kertasari, Kecamatan Labuhan Haji. Pemerintah Provinsi NTB menyatakan dukungannya terhadap langkah yang dinilai mampu menggabungkan aspek ekonomi dan kelestarian lingkungan.

“Kami mengapresiasi inovasi ini. Pemerintah siap mendukung upaya LRC dalam mengolah Sargassum menjadi solusi ekonomi dan ekologi,” kata Iswandi dalam dialog bersama perwakilan desa, kelompok tani, dan lembaga desa.

Program ini memanfaatkan teknologi biostimulan milik Aquabloom untuk mengubah Sargassum menjadi pupuk organik yang dapat meningkatkan kualitas tanah secara berkelanjutan. Teknologi tersebut mengekstraksi unsur hara dari Sargassum tanpa mencemari lingkungan.

Baiq Nurul Nahdiat dari LRC menjelaskan, bahwa pendekatan yang digunakan bersifat partisipatif, dengan pelibatan warga dalam pelatihan, pendampingan, hingga penguatan kelembagaan desa. 

“Selain meningkatkan pendapatan petani, program ini juga memberi kontribusi langsung pada pengurangan limbah laut,” ujarnya.

Dukungan untuk aksi LRC dan Aquabloom ini juga datang dari pemerintah desa. Sunardi, Sekretaris Desa Kertasari, menyebut program ini sebagai peluang untuk membangun ekosistem lokal yang lebih mandiri. 

“Kami melihat potensi jangka panjang, bukan hanya pada produknya, tapi pada penguatan kapasitas masyarakat,” ucapnya.

Sementara itu, Iskandar Zulkarnain, Kabid PSDA Bappeda NTB, menekankan pentingnya sinergi antara riset, teknologi, dan partisipasi komunitas dalam menjawab tantangan kawasan pesisir.

Khotibul Umam Zain, staf LRC yang turut mendampingi program ini sejak tahap seleksi, mengatakan, bahwa kolaborasi dengan Aquabloom merupakan hasil proses panjang yang melibatkan kurasi, komunikasi intensif, dan perencanaan bersama. Menurutnya, pemilihan Sargassum sebagai fokus intervensi didasarkan pada potensi besar yang belum tergarap di masyarakat pesisir.

“Ini bukan hanya tentang produk akhir, tapi tentang membangun pemahaman baru terhadap sumber daya laut,” kata Umam.

Program dijadwalkan mulai berjalan pada Agustus 2025, diawali dengan riset partisipatif di lapangan untuk memahami karakteristik Sargassum lokal. Hasil riset ini akan menjadi dasar pengembangan lebih lanjut, termasuk desain proses produksi yang sesuai dengan kondisi desa.

Inisiatif ini diharapkan menjadi contoh praktik baik bagaimana teknologi, riset, dan pemberdayaan komunitas dapat berkontribusi nyata terhadap pembangunan berkelanjutan di wilayah pesisir.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!