Sekolah Pesisi Juang, tempat anak-anak pesisir tumbuh dan membangun cita-cita

Property of Lombokvibes media.
Property of Lombokvibes media.

Lombokvibes.com, Mataram — Di ujung barat Pulau Lombok, tepatnya di sudut Pantai Bintaro, berdiri sebuah sekolah kecil yang menolak tunduk pada keterbatasan. Namanya Sekolah Pesisi Juang, sebuah ruang belajar yang lahir bukan dari anggaran besar, melainkan dari keberanian, cinta, dan keyakinan bahwa setiap anak berhak atas masa depan.

Didirikan pada 18 Juni 2020 oleh Jauhari Tantowi, seorang pemuda lokal yang terpanggil oleh jeritan sunyi anak-anak pesisir selama pandemi, sekolah ini bermula dari tanah seluas 6×10 meter di pinggir pantai. Tanpa tembok kokoh atau papan tulis elektronik, Sekolah Pesisi Juang tumbuh menjadi simbol perlawanan terhadap ketimpangan pendidikan di daerah pesisir.

Setiap pekan, suasana hidup terasa kembali hadir di kelas-kelas sederhana itu. Anak-anak belajar membaca, berhitung, mengenal alam, hingga mengolah sampah plastik menjadi kerajinan tangan. Mereka juga rutin membersihkan pantai, belajar mencintai lingkungan lewat tindakan nyata. Di akhir bulan, layar tancap edukatif menghadirkan film-film bertema inspiratif, menjadikan proses belajar penuh warna dan makna.

Sekolah ini memiliki dua kelompok utama: Kelas A untuk usia prasekolah hingga kelas 3 SD, dan Kelas B untuk siswa kelas 4 SD hingga SMP. Para pengajarnya adalah mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi, seperti UNRAM, UIN, dan ITB, yang datang secara sukarela membagikan ilmu dan energi.

Tidak hanya menyentuh aspek akademik, Sekolah Pesisi Juang juga menyalurkan beasiswa hasil donasi kolektif. Dana tersebut diberikan kepada anak-anak nelayan agar tetap bisa mengakses pendidikan formal, sekaligus mendorong keberlanjutan belajar mereka.

Dukungan datang dari berbagai arah — mulai dari komunitas literasi, kampus, hingga lembaga swasta seperti Telkom NTB dan GenBI. Mereka semua percaya, bahwa di balik keterbatasan, tersimpan potensi besar yang menunggu kesempatan.

“Anak-anak ini cepat tanggap, berani mencoba hal baru, dan punya semangat belajar yang luar biasa. Mereka cerdas dan tidak takut salah. Saya percaya mereka bisa tumbuh dan bersinar, bahkan di panggung dunia,” ujar Jauhari Tantowi.

Ia menambahkan, bahwa pendidikan bukan sekadar angka atau ijazah, tetapi tentang membentuk karakter dan membukakan jalan untuk perubahan hidup.

Di tempat ini, mimpi tidak ditentukan oleh alamat rumah atau latar belakang ekonomi, tapi oleh seberapa besar keberanian untuk terus berjalan — bahkan dari tepian laut.

Lebih dari sekadar tempat belajar, Sekolah Pesisi Juang adalah ruang tumbuh, tempat anak-anak bisa mengenal diri, mengembangkan bakat, dan bermimpi besar. Mereka bukan hanya belajar menjadi pintar, tapi juga menjadi peduli, tangguh, dan berani bermimpi.

“Harapannya, adik-adik ini bisa terus tumbuh dan mampu berkembang di dunia, nasional maupun internasional. Mereka dapat mengubah nasib keluarga melalui pendidikan yang mereka jalankan hari ini, dan bisa menularkan kebaikan serta bermanfaat untuk sesamanya,” ujarnya.

< a title=" milad bima 2025" target="_blank">

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!