Lombokvibes.com, Mataram – Keberanian memulai usaha sejak masih duduk di bangku kuliah mengantarkan Edi Sanjaya, S.Pt., alumni Program Studi Peternakan Universitas Mataram (Unram), menjadi pengusaha peternakan sekaligus penggerak ekonomi masyarakat di Pulau Lombok.
Melalui usaha yang dirintisnya, MBB Farm Lombok, Edi berhasil membangun ekosistem peternakan yang melibatkan lebih dari 100 peternak kambing dan sapi lokal serta membuka lapangan kerja bagi puluhan warga.
Perjalanan Edi di dunia peternakan bermula pada 2017 saat masih berstatus mahasiswa. Meski Program Studi Peternakan bukan pilihan utamanya ketika masuk Unram, pengalaman selama kuliah justru mengubah cara pandangnya terhadap sektor peternakan.
Ia terinspirasi setelah mendapatkan motivasi dari dosennya untuk memiliki mimpi besar dan berani menjadi praktisi di bidang yang dipelajari. Sejak saat itu, Edi mulai mendalami ilmu peternakan dari berbagai sumber dan melihat peluang besar yang ada di lingkungan sekitarnya.
Melihat banyak peternak di desanya masih menjalankan usaha secara tradisional dan mengalami kesulitan dalam pemasaran ternak, Edi kemudian membangun usaha yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga pemberdayaan masyarakat.
Berawal dari budidaya dan penggemukan kambing untuk kebutuhan hewan kurban, MBB Farm Lombok kini berkembang ke berbagai sektor, mulai dari penggemukan sapi potong, produksi susu kambing, hingga pemasok sapi ke sejumlah daerah seperti Kalimantan dan Jabodetabek.
“Sebagai seorang terdidik, tentu masyarakat menaruh harapan kepada kita. Ilmu yang diperoleh harus kembali kepada masyarakat dan memberi manfaat bagi lingkungan sekitar,” ujar Edi.
Prinsip tersebut diwujudkan melalui pola kemitraan dengan peternak lokal. Selain membantu pemasaran hasil ternak, Edi juga aktif mendorong para peternak untuk menerapkan pola usaha yang lebih modern dan memiliki daya saing.
Saat ini, MBB Farm Lombok menjadi sumber penghidupan bagi sekitar 25 tenaga kerja lokal. Bagi Edi, keberhasilan terbesar bukanlah besarnya usaha yang dibangun, melainkan ketika usaha tersebut mampu memberikan manfaat bagi banyak orang.
“Saya tidak pernah membayangkan ketika pertama kali merintis peternakan ini suatu hari nanti bisa mempekerjakan orang lain. Ketika orang lain bisa mendapatkan penghidupan dari usaha ini, di situlah perjuangan ini benar-benar berarti,” tuturnya.
Dalam perjalanan membangun usaha, Edi juga menghadapi berbagai tantangan, terutama keterbatasan modal. Berasal dari keluarga sederhana, ia memulai usahanya melalui skema urun dana bersama teman kuliah dan dukungan investasi dari dosen yang percaya pada potensinya.
Menurutnya, keterbatasan bukan alasan untuk berhenti melangkah. Keberanian mengambil peluang, kemauan belajar, dan konsistensi menjadi kunci utama dalam membangun usaha yang berkelanjutan.
Dampak yang berhasil dibangun melalui sektor peternakan turut mengantarkan Edi ke dunia kepemimpinan. Pada 2025, ia terpilih sebagai Kepala Desa Lelong, Kecamatan Praya Tengah, Lombok Tengah.
Sebagai kepala desa, Edi fokus pada peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan ekonomi desa, dan pembangunan infrastruktur yang mendukung kemajuan masyarakat.
Ia meyakini bahwa makna pendidikan sesungguhnya terletak pada kemampuan seseorang menghadirkan manfaat dan solusi bagi lingkungan sekitarnya.
“Lakukanlah hal yang bermanfaat, sekecil apa pun itu. Karena sekecil apa pun dampaknya, ketika memberi manfaat bagi lingkungan sekitar, itulah awal dari perubahan yang lebih besar,” pesannya kepada mahasiswa.
Kisah Edi Sanjaya menjadi bukti bahwa keberanian untuk memulai dapat melahirkan dampak yang luas. Dari usaha peternakan yang dirintis saat kuliah, kini lahir peluang ekonomi bagi ratusan peternak, lapangan pekerjaan bagi masyarakat, serta ruang pengabdian yang lebih besar melalui kepemimpinannya di tingkat desa. (LV)




























