Lombokvibes.com, Lombok Utara– Di saat banyak desa masih fokus pada pembangunan fisik, Desa Sigar Penjalin, Kecamatan Tanjung, memilih berinvestasi pada kesehatan warganya. Komitmen itu berbuah manis setelah desa tersebut menerima penghargaan sebagai desa dengan komitmen dukungan penganggaran Program Tuberkulosis (TB) terbaik di Kabupaten Lombok Utara.
Penghargaan yang diberikan Pemerintah Kabupaten Lombok Utara itu menjadi bukti bahwa peran desa sangat penting dalam mendukung upaya eliminasi TBC, penyakit menular yang masih menjadi salah satu tantangan kesehatan masyarakat.
Tidak hanya sebatas program, Desa Sigar Penjalin bahkan tercatat sebagai desa pertama di Kabupaten Lombok Utara yang menganggarkan insentif bagi kader TB, sebuah langkah yang dinilai menjadi terobosan dalam mendukung penemuan kasus, pendampingan pasien, hingga memastikan pengobatan berjalan tuntas.
Kepala Desa Sigar Penjalin, Zawil Fadli, menyampaikan rasa syukur atas penghargaan yang diterima. Menurutnya, penghargaan tersebut merupakan hasil kerja keras dan kolaborasi seluruh elemen masyarakat.
“Alhamdulillah, penghargaan ini menjadi bukti kerja keras bersama antara pemerintah desa, kader TB, tenaga kesehatan, dan masyarakat. Kami juga mengapresiasi warga yang aktif memeriksakan kesehatannya dan disiplin menjalani pengobatan,” ujar Zawil.
Ia menegaskan, penghargaan tersebut bukan menjadi akhir perjalanan, melainkan motivasi untuk terus memperkuat berbagai upaya pencegahan dan pengendalian TBC di tingkat desa.
“Pemerintah Desa Sigar Penjalin berkomitmen mewujudkan desa bebas TBC. Mudah-mudahan apa yang kami lakukan dapat menginspirasi desa-desa lain di Lombok Utara,” katanya.
Dana Desa untuk Menyelamatkan Warga
Komitmen Desa Sigar Penjalin tidak hanya terlihat dari kebijakan, tetapi juga melalui dukungan anggaran yang nyata. Dana desa dialokasikan untuk berbagai kegiatan pengendalian TBC, mulai dari sosialisasi, pelatihan kader, kunjungan rumah, hingga penjaringan kasus terduga TBC.
Sosialisasi dilakukan secara rutin di setiap kegiatan posyandu dengan melibatkan petugas pustu, bidan desa, dan programmer TB dari puskesmas. Pelatihan kader juga telah digelar bekerja sama dengan Dinas Kesehatan pada Desember 2022 dan Juli 2026.
Selain itu, kader TB secara aktif melakukan kunjungan rumah dan pendampingan kepada pasien untuk memastikan mereka menjalani pengobatan hingga sembuh. Upaya penemuan kasus juga dilakukan dengan menjaring sekitar 20 orang yang merupakan tetangga dan kontak erat pasien positif TBC.
Tak hanya itu, pemerintah desa bersama puskesmas dan lintas sektor rutin menggelar pertemuan evaluasi setiap tiga bulan guna memperkuat strategi penanganan TBC di wilayah tersebut.
Lawan Stigma, Perkuat Edukasi
Menurut Zawil, salah satu tantangan terbesar dalam pengendalian TBC adalah masih adanya stigma di masyarakat. Padahal, TBC merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri dan dapat disembuhkan jika pasien menjalani pengobatan secara teratur hingga tuntas.
Karena itu, edukasi terus dilakukan agar masyarakat memahami bahwa TBC bukan penyakit kutukan maupun keturunan.
Pemerintah Desa Sigar Penjalin meyakini bahwa keberhasilan mengendalikan TBC tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja. Diperlukan kolaborasi antara pemerintah desa, tenaga kesehatan, kader, tokoh masyarakat, dan warga.
Dengan semangat kolaborasi tersebut, Desa Sigar Penjalin kini menjadi contoh bagaimana dana desa tidak hanya digunakan untuk membangun infrastruktur, tetapi juga membangun kualitas hidup masyarakat melalui investasi di bidang kesehatan.




























