Para aktivis luncurkan gerakan Koin untuk Meang, demi infrastruktur warga yang lebih baik

Berayan Ramadhan diisi sejumlah musisi yang hadir dengan beragam warna musik mereka. Kelompok musisi muda Selemor, yang terdiri dari mahasiswa Prodi Sendratasik UNU NTB hadir membuka acara. Empat personil Selemor, masing-masing Tegar, Fatwa, Ayu, dan Bam menyuguhkan musik khas anak muda yang penuh semangat.

Hadir pula kelompok musik Wage. Kelompok baru yang terdiri dari sejumlah musisi muda berbakat, Wahyu, Gena, dan Alamsyah menghibur hadirin dengan dua nomer lagu dari puisi karya Pikong.

Wahyu Kurnia, vokalis Wage sangat mengapresiasi Gerakan Koin untuk Meang.

“Gerakan ini menunjukkan bahwa masih ada jiwa Kemanusiaan dalam diri kita.” Katanya.

Di puncak acara, musisi Ary Juliant, menampilkan lagu-lagu anomali yang jarang diperdengarkan ke publik selama ini. Berayan Ramadhan kali ini adalah titik kelima dari gerakan musik gerilya Ary Juliant yang digelar selama Ramadhan tahun ini.

Dari lima nomer lagu yang disuguhkan, Ary Juliant menutup penampilannya dengan sebuah lagu tentang kelahiran yang digubah dari puisi seorang penyair Bandung. “Cerita dalam lagu ini sepertinya nyambung dengan cerita ibu di Meang yang berjuang melahirkan buah hatinya dalam situasi yang memprihatinkan.” Kata Ary Juliant.

Jembatan untuk Meang rencananya akan dibangun dari donasi publik melalui gerakan Koin untuk Meang. Jembatan itu tengah dirancang oleh Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Mataram. Bagi publik yang ingin terlibat mewujudkan koin untuk Meang, bisa berdonasi melalui rekening Bank Mandiri, no 1610011884827, atas nama Fauzi.

Perkembangan penggalangan dana ini akan dilaporkan secara berkala melalui media sosial Facebook dan Instagram, @SolidaritasMeang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!